Tuesday, 26 March 2019

BUPATI JWS DAN WABUP IVANSA PIMPIN TOAST DALAM RESEPSI KENEGARAAN DI MINAHASA

Advetorial-3Tondano,KLABATNEWSOK.com-Bupati Minahasa Drs Jantje Wowiling Sajow MSi dan Wakil Bupati Ivan Sarundajang memimpin Toast dalam Resepsi Kenegaraan HUT ke-69 RI di Minahasa pada Minggu (17/8) malam di Wale Ne Tou, Sasaran Tondano. Acara yang diawali dengan Laporan Ketua Panitia Hetty Rumagit SH, dihadiri pula Ketua TP PKK Dr Olga Sajow-Singkoh MHum dan Wakil Ketua Jashinta Sarundajang-Paat, Ketua DPRD Drs Frits Tairas, Dandim 1302 Letkol Kav Teguh Susanto, Kapolres AKBP Dra Henny Posumah, Kajari Risman Tarihoran SH MH, Ketua PN Novri Oroh SH MH, Sekda Jeffry Korengkeng SH MSi, Ketua DWP Ny Seeve Korengkeng-Warouw, para pejabat, tokoh masyarakat dan tamu khusus Ketua Maesa New York Jeffry Malonda beserta rombongannya.

Dalam sambutannya, Bupati JWS mengatakan bahwa bercermin dari keteladanan para Pahlawan dalam merebut kemerdekaan dengan mengedepankan persatuan dan kesatuan, maka dalam konteks pembangunan kini, nilai itu masih sangat relevan, bahkan menjadi fondasi bagi bergeraknya dinamika pembangunan di daerah ini.

Bupati mengharapkan agar segenap komponen bangsa dapat menjadi perekat bagi kemajuan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Bupati menyentil juga akan harapan dan dambaan masyarakat di seluruh pelosok desa, melalui kunjungan kerja maupun dari berbagai acara desa lainnya di Minahasa. “Karena itu di tahun 2015 dengan alokasi dana APBN yang cukup besar bagi Desa sebagaimana disampaikan Bapak Presiden RI pada pidato penyampaian RAPBN 2015 tanggal 15 Agustus 2014 lalu, akan ditopang dengan program dan kegiatan yang dapat memacu perkembangan pembangunan” kata Bupati. Acara diselingi pergelaran Maengket dari SMAN 1 Kawangkoan, paduan suara dan Kolintang Tim Kesenian Pemkab, serta pemberian Piagam kepada Paskibraka 2014 dan hadiah-hadiah kepada para pemenang Lomba yang digelar.(morray pasulatan)

Share

PELETAKAN BATU PERTAMA TUGU KOLINTANG dan Pelantikan Pengurus Persatuan Insan Kolintang Nasional (Pinkan) Sulut

iklan disbudpar

Share

Renungan Minggu, 17 Agustus 2014: Kekuasaan dalam Cahaya Iman

Cahaya-HidupIman Kristiani menandaskan bahwa kekuasaan politis itu bukanlah segala-galanya, tetapi ditempatkan di bawah kuasa yang lebih tinggi yaitu kuasa ilahi.

Kekuasaan itu mempesona. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau orang berlomba- lomba untuk merebutnya. Bahkan orang tak segan dan tak tahu malu menggunakan segala macam cara untuk berkuasa. Kampanye hitam dalam Pilpres yang baru lewat adalah bukti yang paling jelas dari hal ini. Kekuasaan itu juga membius. Tak mengherankan kalau orang yang berkuasa berupaya dengan pelbagai cara tetap bercokol di tahta kekuasaan.

Justru karena kekuasaan itu cenderung ‘korupt’ (the power tends to corrupt), iman Kristiani menandaskan bahwa kekuasaan politis itu bukanlah segala-galanya, tetapi ditempatkan di bawah kuasa yang lebih tinggi yaitu kuasa ilahi. Kisah Injil hari ini, tentang “Membayar pajak kepada Kaisar” (Mat 22:15-22), mewartakan dengan tegas tentang hal tersebut. Memang teks ini seringkali ditafsir oleh banyak pihak sebagai ajaran Yesus tentang keterpisahan dunia politik dari ranah iman atau tentang otonomi negara dari agama.

Negara dan agama memiliki prinsip dan mekanisme masing-masing yang tidak boleh dicampur-adukkan satu sama lain. Bila negara mengurusi hal-hal politis jasmani warga negara, maka agama menangani urusan etis- rohani umat. Namun, tak jarang pandangan demikian bermuara pada kekeliruan yang fatal ketika fungsi kritis profetis iman terhadap kekuasaan politik dibungkam dan agama dibatasi dalam urusan ritual
belaka.

Dalam kisah Injil hari ini, Yesus sebetulnya berbicara tentang hal lain yaitu tentang kekuasaan sipil yang mesti dijalankan sesuai dengan kehendak ilahi. Seorang warga yang baik tentu wajib taat kepada Kaisar. Tetapi ketaatan itu bukanlah ketaatan buta. Yesus sekaligus mengingatkan bahwa ketaatan demikian mesti diselaraskan dengan ketakwaan kepada Allah. Itu berarti orang tunduk kepada Kaisar sejauh ia menjalankan kekuasaannya sesuai dengan kehendak Allah. Orang mesti “memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah”. Yang menjadi milik Allah adalah segala sesuatu yang diciptakan- Nya, termasuk kekuasaan politis yang dimiliki sang Kaisar.

Dalam perspektif iman Israel, kekuasaan politik tidak dipisahkan dari otoritas religius. Seorang raja adalah representasi Allah. Artinya, ia menjalankan kuasa yang diberikan oleh Allah dan sekaligus harus bertindak sesuai dengan kehendak Dia yang Kekuasaan berikan otoritas tersebut. Karena itu seorang
pemimpin politik selalu dinilai oleh prinsip- prinsip moral yang mengalir dari keyakinan iman akan Allah seperti kejujuran, kebenaran, keadilan, kesejahteraan umum dan kemanusiaan.

Hal yang sama ditegaskan oleh Kitab Sirakh dalam nasihat-nasihat untuk para penguasa (Sir 10:1-10). Kuasa politik tunduk di bawah kuasa ilahi, karena “di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi” (Sir 10:4). Martabat seorang pejabat “dikaruniakan oleh-Nya” (Sir 10:5). Karena itu penguasa mesti mengusahakan ketertiban dan kesejahteraan bagi rakyatnya sesuai dengan kehendak Allah. Sebaliknya, ada tiga bahaya besar yang harus dihindari oleh para penguasa yakni kelaliman, kekerasan dan uang (Sir 10:8). Sirakh memperingatkan dimensi temporer penguasa yang mengabsolutkan kekuasaanya: “hari ini masih raja dan besok sudah mati!” (Sir 10:10).

Hal serupa ditegaskan oleh Santo Petrus dalam surat pertamanya (1 Ptr 2:13-17). Ia mengajak umat Kristiani untuk tunduk kepada pemegang kekuasaan “karena Allah”. Orang perlu taat kepada penguasa yang takwa kepada Allah bukan kepada penguasa lalim. Ketakwaan kepada Allah ini tampak ketika seorang penguasa memperjuangkan kebaikan dan memberantas kejahatan. Dalam konteks memperjuangkan kebaikan bersama atau kesejahteraan umum inilah seorang penguasa dinilai.

Perayaan kemerdekaan bangsa Indonesia tahun ini sangatlah bermakna karena bertepatan dengan transisi kekuasaan kepada pemimpin yang baru. Bacaan-bacaan hari Minggu ini menginspirasi prinsip-prinsip kekuasaan yang tepat. Marilah kita berdoa dan turut berjuang agar pemimpin baru Indonesia sungguh-sungguh dapat menjadi pelayan rakyat. Yaitu pemimpin yang bukan membatasi atau mengkebiri kebebasan warga, tetapi yang mengkondisikan agar anak-anak bangsa merasa dan hidup sebagai orang-orang yang merdeka dan sejahtera. Selamat merayakan 17 Agustus 2014.

Mgr Hubertus Leteng
Uskup Ruteng
– See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/08/15/renungan-minggu-17-agustus-2014-kekuasaan-dalam-cahaya-iman?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook#sthash.Mn7kVFSm.dpuf

Share

Bacaan Injil, Minggu 17 Agustus 2014: Mat 22:15-21

Tentang membayar pajak kepada Kaisar

PajakMat 22:15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.

Mat 22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.

Mat 22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

Mat 22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?

Mat 22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.

Mat 22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?”

Mat 22:21 Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id
– See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/08/15/bacaan-injil-minggu-17-agustus-2014-mat-2215-21?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook#sthash.RTGxBF9A.dpuf

Share

Mazmur, Minggu 17 Agustus 2014: Mzm 101:1-3,6-7

TUHAN-kepada-DaudMzm 101:1 Mazmur Daud. Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya TUHAN.

Mzm 101:2 Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku.

Mzm 101:3 Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku.

Mzm 101:6 Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan aku. Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela, akan melayani aku.

Mzm 101:7 Orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumahku, orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku.

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id
– See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/08/15/mazmur-minggu-17-agustus-2014-mzm-1011-36-7?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook#sthash.vnEPzsSq.dpuf

Share

Bacaan II, Minggu 17 Agustus 2014: 1Ptr 2:13-17

membayar-pajak-kepada-kaisar1Ptr 2:13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,

1Ptr 2:14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.

1Ptr 2:15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.

1Ptr 2:16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.

1Ptr 2:17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id

Share

Bacaan I, Minggu 17 Agustus 2014: Sir 10:1-8

Nasehat-nasehat-untuk-para-penguasaSir 10:1 Pemerintah yang bijak Arif mempertahankan ketertiban pada rakyatnya, dan pemerintahan orang arif adalah teratur.

Sir 10:2 Seperti penguasa bangsa demikianpun para pegawainya, dan seperti pemerintah kota demikian pula semua penduduknya.

Sir 10:3 Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya.

Sir 10:4 Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya ia mengangkat orang yang serasi atasnya.

Sir 10:5 Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seorang manusia, dan kepada para pejabat dikaruniakan oleh-Nya martabatnya.

Sir 10:6 Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu.

Sir 10:7 Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun oleh manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah.

Sir 10:8 Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan dan uang.

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id

Share