Sunday, 16 December 2018

Katakese Bulan Rosario

Berkatalah perempuan itu: “Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku.” Jawab raja kepadanya: “Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu.” (1Raj 2:20)

Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari padaKu, ibu? SaatKu belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. (Yoh 2:4-5,7)

KATEKESE BULAN ROSARIO: KEPENGANTARAAN BUNDA MARIA

Damai Kristus
Pertama untuk merayakan Bulan Oktober untuk penghormatan Gereja Katolik kepada Santa Perawan Maria. Dan kedua pada hari ini, 13 Oktober 2017 kita semua mengenang 100 tahun Bunda Maria menampakkan diri untuk terakhir kalinya kepada Yacinta, Francesco dan Lucia di Fatima.

Mengapa Gereja Katolik mengajarkan kuat kuasa dan iman akan peran unik kepengantaraan Bunda Maria dalam doa doa kita? Mari kita bersama mempelajari apa yang dikehendaki oleh Allah lewat pengajaran Gereja Katolik.

Ajaran Gereja: Magisterium

Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: “Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi. Pengaruh tersebut mengalir dari kelimpahan pahala Kristus, bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.” (Lumen Gentium 60)

BAB IV: KUASA DI BELAKANG TAKHTA

BUNDA RATU DAN RAJA KETURUNAN DAUD

Telah kita lihat, baik dalam Injil Yohanes maupun dalam Kitab Wahyu, bagaimana karya penebusan Yesus menggenapi banyak gambaran atau bayangan dalam Kitab Kejadian. Ciptaan pertama menggambarkan pembaruan dan penebusan semesta alam oleh Yesus Kristus (Why 21:5). Taman Eden adalah gambaran dari Taman Getsemani. Pohon di taman Eden menggambarkan kayu salib. Adam adalah gambaran Yesus Kristus, Hawa adalah gambaran Santa Perawan Maria.

Tetapi dalam menelaah Kitab Wahyu 12, kita juga menangkap sekilas pola gambaran yang lain. Pola pertama, yang melihat Maria sebagai tabut perjanjian, mau tidak mau mengantar kita kembali kepada Musa, yang mengembara bersama bani Israel di padang gurun selama 40 tahun. Bangsa Israel yang mengikuti Musa, “…ditebus oleh darah Anak Domba” (Why 12:11), ketika anak-anak sulung mereka dibebaskan pada Paskah pertama. Dengan cara yang sama, Israel baru “ditebus… oleh darah Anak Domba” yaitu Yesus Kristus, yang adalah Musa Baru, pemberi hukum yang baru. Mengikuti pola ini, kita juga dapat melihat saudari Musa yang bernama Miriam (=Maria) seperti Hawa, ibu yang gagal, yang melahirkan penyembahan berhala dan pemberontakan terhadap kuasa yang ditetapkan oleh Allah. Tetapi, dalam Perjanjian Baru, tampil seorang Miriam baru, yang akan menjadi gambaran dan model ketaatan yang sempurna.

Disamping itu, pola penggambaran yang lebih mengesankan adalah apa yang kita temukan dalam Kerajaan Daud. Kerajaan Daud bagi bangsa Israel kuno merupakan gambaran Kerajaan Mesias. Daud, raja Ibrani kedua berhasil mempersatukan kedua belas suku Israel dan membangun kota Yerusalem sebagai ibukota kerajaan dan pusat kehidupan keagamaan. Bangsa Israel sangat menghormati Daud karena kejujuran, keadilan, dan kesetiaannya kepada Tuhan. Tetapi para pengganti dan penerus Daud tidak pernah sungguh-sungguh menghayati dan meneladani keutamaan leluhur mereka. Jika Daud berhasil mempersatukan seluruh suku-suku Israel, tetapi raja-raja penerusnya menaburkan kebencian di kalangan suku-suku Israel. Akhirnya kebencian itu mengarah ke pemberontakan dan perpecahan Kerajaan Israel yang dulunya bersatu. Bangsa Israel menjadi lemah dan rentan dan mudah ditakhlukan oleh musuh-musuhnya. Ketika Israel diserang oleh orang-orang dari Babel, orang-orang Israel dibawa ke pembuangan, dan keturunan Daud hampir punah dibunuh oleh musuh. Zedekia, raja keturunan Daud terakhir dibiarkan untuk tetap hidup untuk menyaksikan bagaimana orang-orang Kaldea musuhnya membantai semua anak Zedekia, sebelum akhirnya mereka mencungkil mata Zedekia sehingga gambaran terakhir yang melekat pada ingatannya adalah jenazah anak-anaknya, demikianlah akhir dari dinasti Kerajaan Daud (2Raj 25:7).

Tetapi kemudian selama masa pembuangan dan dalam pasang surut sejarah bangsa Israel, bangsa Israel melihat ke depan bahwa mereka menantikan kedatangan kembali Kerajaan Daud yang dicita-citakan sebagai penggenapan kelak dengan kedatangan Mesias, raja dan imam yang diurapi oleh Allah. Bahkan pada zaman Yesus, orang-orang Farisi tidak ragu-ragu mengidentifikasikan Mesias sebagai “Anak Daud” (Mat 22:42). Karena Tuhan telah menjanjikan kepada Daud bahwa seorang raja dari garis keturunannya akan memerintah segala bangsa, dan ia akan memerintah untuk selama-lamanya,” Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.”(2Sam 7:12-14). Kita juga temukan janji Allah tersebut dalam Kitab Mazmur, ” TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud, Ia tidak akan memungkirinya: “Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu; jika anak-anakmu berpegang pada perjanjianKu, dan pada peraturan-peraturanKu yang Kuajarkan kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas takhtamu.” Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukanNya: “Inilah tempat perhentianKu selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya.” (Mzm 132:11-14)

Para nabi-nabi Perjanjian Lama memadukan kenangan indah dan kerinduan bangsa Israel ini dan menubuatkan kedatangan Mesias dengan ketepatan dan kecermatan yang mengagumkan. Bahkan sebelum zaman Zedekia, Nabi Yesaya telah menubuatkan bahwa keturunan Daud, silsilah keluarga ayah Daud yaitu Isai akan menjadi “tunggul”, tetapi dari tunggul itu akan muncul “tunas”, bahkan cabang, yaitu Mesias (Yes 11:1). Lalu berkatalah nabi Yesaya: “Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. (Yes 7:13-14)

Silsilah yang Aneh

Kata-kata pembuka dari Perjanjian Baru yang menggenapi nubuat para nabi Perjanjian Lama dan kerinduan bangsa Israel akan datangnya Mesias, “Inilah silsilah Yesus, anak Daud”(Mat 1:1). Sejak awal mula, Matius mengidentifikasikan Yesus sebagai anak Daud, Sang Mesias yang sudah lama dinantikan oleh bangsa Israel. Tetapi Matius melakukan pembuatan silsilah ini dengan cara yang aneh, tidak lazim dan sama sekali baru. Secara tradisional, suatu silsilah merupakan daftar keturunan yang hanya menyebutkan figur laki-laki. Tetapi, Matius menyimpang dari pembuatan suatu silsilah dari kelaziman tersebut, Matius memasukkan empat nama figur perempuan. Apalagi keempat perempuan ini semuanya jauh dari pandangan bangsa Israel tentang kemurnian, baik moral maupun rasial.

Figur perempuan pertama yang disebut oleh Matius dalam silsilah itu adalah Tamar (Mat 1:3), seorang perempuan Kanaan yang mempunyai skandal hubungan seksual dengan mertuanya (Kej 38:15-18). Perempuan kedua adalah Rahab, seorang kafir dan pelacur Kanaan (Mat 1:5; Yos 1:1-24). Perempuan yang ketiga adalah Ruth, seorang kafir yang lain, perempuan Moab (Mat 1:5). Dan perempuan terakhir yang sangat menarik dan disebut oleh Matius dalam daftar silsilah tersebut adalah Batsyeba, istri Uria orang Hitit (Mat 6), yang secara jelas melakukan perzinahan dengan Raja Daud.

Penginjil Matius tampak dengan jelas menyimpang dari kelaziman dan peraturan pembuatan silsilah dengan memasukkan perempuan tersebut dalam silsilah Yesus, anak Daud. Tetapi sebenarnya Matius melakukan sesuatu prinsip yang sungguh cerdik: “hantam dulu baru kemudian meminta maaf.” Dengan menempatkan perempuan-perempuan kafir dan dengan reputasi moral yang tidak baik di antara leluhur Yesus, anak Daud, Matius secara efektif dan tepat menggugurkan argumentasi dari siapapun juga yang mempertanyakan mandat mesianis Yesus, anak Daud. Sudah pasti, Penginjil Matius sudah tahu bahwa klaim Yesus yang dikandung oleh seorang perawan muda akan membangkitkan senyum sinis orang-orang yang meragukan kemesiasan Yesus. Dan hal ini memang terjadi. Yesus disebut sebagai anak haram di berbagai bagian Kitab Talmud Yahudi, dan julukan “Putra Maria” terhadap Yesus adalah suatu bentuk pelecehan. Tradisi Yahudi selalu menyebut seseorang sebagai “anak” dari ayahnya. Hanya orang yang tidak punya ayah disebut sebagai “anak” dari ibu). Tetapi Matius sengaja menantang para pembaca dari orang-orang Yahudi untuk mengajukan pertanyaan dan perhatian khusus sehubungan dengan nenek moyang Yesus. Sebab jika orang-orang Yahudi melecehkan Yesus sebagai “Putra Maria”, maka raja Salomo yang adalah “anak idaman raja Daud” sudah empat kali terputus alurnya. Karena Salomo memiliki leluhur perempuan yang sama dengan Yesus dan yang terakhir dari mereka adalah Batsyeba, yang adalah ibu Salomo sendiri.

Matius, dengan silsilah aneh tersebut menyelamatkan wibawa kemesiasan Yesus dan sekaligus menunjukkan karya penyelenggaraan ilahi dalam peristiwa perkandungan seorang perawan muda dari Nazaret. Tanpa mengacu kepada Daud, Kerajaan Mesias, janji Allah, nubuat-nubuat para nabi, tidak seorangpun yang dapat mengerti dan memahami kedatangan Yesus Kristus. Penginjil Matius melanjutkan pembelaan terhadap kemesiasan Yesus terhadap alur argumentasi miring di atas dengan menyampaikan nubuat nabi Yesaya bagaimana Imanuel, “Allah beserta kita” (Mat 1:23), dikandung oleh seorang perawan. Beberapa pernyataan berikutnya, ketika Matius mengisahkan kelahiran Yesus di Betlehem, kota Daud, ia mengutip nubuat nabi Mika 5:1, “Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel.” (Mat 2:6). Dan akhirnya saat menutup kisahnya tentang masa kanak-kanak Yesus, Matius menggambarkan keluarga Kudus menetap di “sebuah kota yang bernama Nazaret” (Mat 2:23). Akar kata Nazaret adalah “nester” atau “cabang”, dan “cabang” ini adalah nama yang diberikan oleh nabi Yesaya kepada Mesias, yang kelak bertunas dari tunggul Isai (Yes 11:1).

Melihat Bintang-bintang

Demikianlah dari awal Perjanjian Baru kita melihat bahwa Kerajaan Daud seperti halnya taman Eden adalah antisipasi tunggal untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus. Dalam kerangka ini, detail-detail kecil dari kerajaan Daud seperti detail detail kecil dari Protoevangelium memiliki arti yang sangat berharga. Struktur pemerintahan dalam Kerajaan Daud sama sekali bukanlah suatu kebetulan, dalam rencana penyelenggaraan Allah, struktur pemerintahan ini sungguh menggambarkan Kerajaan Allah.

Pada akhir Perjanjian Baru, dalam Kitab Wahyu, gambaran Kerajaan Daud yang dibeberkan secara berkesinambungan dalam bab 11 dan 12, mengingatkan permohonan raja Daud seperti yang ditunjukkan dalam Mazmur 2. Mazmur tersebut dimulai dengan, ” Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?” (Mzm 2:1). Sebaliknya, Kitab Wahyu menunjukkan bagaimana “bangsa-bangsa rusuh”, mendatangkan “murka” Allah atas diri mereka sendiri (Why 11:18; lih juga Maz 2:5). Dalam Mzm 2, Allah memberitahukan raja Daud, ” Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: “AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” (Mzm 2:7), ini merupakan antisipasi kata-kata yang diucapkan oleh Allah Bapa atas Yesus pada saat pembaptisan Yesus, “lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” (Mat 3:17). Anak Daud akan memerintah bangsa-bangsa dengan gada besi, demikianlah dinyatakan dalam Mzm 2:8-9. Dalam Kitab Wahyu, janji ini digenapi dalam “seorang perempuan” melahirkan “anak laki-lakinya” yang akan “memerintah segala bangsa dengan gada besi” (Why 12:5).

Maka melanjutkan tentang telaah Kitab Wahyu, dalam kaitannya dengan gambaran Kerajaan Daud, bagaimana kita dapat memahami “perempuan berselubungkan matahari dan bermahkota dua belas bintang?”

Pertama, jelas perempuan itu haruslah menduduki tempat yang tinggi dalam hubungan dengan Israel, yaitu kedua belas suku Israel yang digambarkan dalam dua belas bintang yang memahkotai perempuan itu. Sungguh penglihatan surgawi Rasul Yohanes itu mengingatkan kita kepada mimpi yang dialami oleh Bapa Bangsa Yusuf dalam Kitab Kejadian tentang “matahari, bulan dan sebelas bintang…yang sujud menyembah kepadanya (Kej 37:9). Dalam mimpi Yusuf, kesebelas bintang itu mewakili saudara-saudaranya, sesama Bapa Bangsa suku-suku Israel yang lainnya.

Tetapi masih ada hal-hal lain yang perlu diperjelas tentang perempuan dalam Kitab Wahyu. Karena pada masa kejayaan perjanjian lama, kedua belas suku Israel itu sungguh-sungguh bersatu dan dipersatukan oleh dan semuanya patuh kepada seorang perempuan istana Kerajaan Daud, dan sosok ini jelas menggambarkan perempuan yang kita jumpai dalam Kitab Wahyu.

Bunda Ratu

Kerajaan Israel hidup dalam situasi sejarah yang sangat khas, dan berkembang dalam wilayah geografis setempat. Di kawasan Timur Tengah kuno, sebagian besar bangsa mengikuti suatu sistem pemerintahan kerajaan yang diperintah oleh seorang raja. Di samping itu, kebanyakan tradisi budaya di sana menganut poligami, dengan demikian seorang raja sering memiliki beberapa orang istri. Hal ini tentu saja menimbulkan beberapa permasalahan. Pertama, siapakah yang akan dihormati oleh rakyat sebagai Ratu? Dan yang lebih penting, anak siapakah yang akan memiliki hak untuk mewarisi takhta kerajaan?

Dalam sebagian besar kebudayaan Timur Tengah, kedua permasalahan ini dipecahkan dengan suatu kebiasaan atau tradisi. Perempuan yang dihormati sebagai ratu adalah ibunda sang raja, bukan istrinya. Di balik praktik itu ada unsur keadilan, karena seringkali kekuasaan ibulah yang memenangkan takhta kerajaan bagi puteranya. Tradisi ini juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan kekuasaan dalam suatu bangsa. Sebagai istri dari raja terdahulu dan ibu dari raja yang sedang berkuasa, bunda ratu memainkan peran penting dalam kesinambungan suksesi kerajaan.

Peran bunda ratu di kalangan bangsa-bangsa bukan Yahudi sudah sangat kokoh pada zaman bangsa Israel mulai menuntut suatu bentuk pemerintahan kerajaan. Karena pada saat itu Israel belum pernah menjadi suatu kerajaan. Dalam rencana Allah, Allah lah yang akan menjadi raja mereka (1Sam 8:7). Tetapi bangsa Israel meminta kepada Samuel untuk memberi kepada mereka seorang raja, ” Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.” (1Sam 8:19-20). Maka Allah mengizinkan umat Israel menempuh jalannya sendiri. Tetapi demi kemuliaan-Nya: seturut penyelenggaraanNya, Israel harus menggambarkan Kerajaan Putera Allah sendiri. Kerajaan Israel harus menjadi gambaran Kerajaan Allah.

Secara historis, untuk mewujudkan sistem pemerintahan kerajaan seperti itu, bangsa Israel harus melihat ke bangsa-bangsa lain di sekitarnya untuk mencari model pemerintahan. Ingatlah bahwa mereka menghendaki seorang raja supaya mereka, “sama seperti bangsa-bangsa lain.” Maka dengan mengikuti model pemerintahan bangsa lain disekitarnya, bangsa Israel mendirikan sebuah dinasti pemerintahan, sistem hukum, pengadilan kerajaan dan bunda ratu. Kita menemukan semua hal tersebut saat Israel memulai pemerintahan kerajaan yang dimulai pada awal dinasti Daud. Pengganti raja Daud yang pertama, Salomo memerintah kerajaan bersama ibunya yaitu Batsyeba yang duduk di sebelah kanan raja Salomo. Demikianlah, bunda ratu Israel atau “gebirah” (ibu negara), tampil sepanjang sejarah kerajaan Israel sampai pada akhirnya. Ketika Yerusalem jatuh ke tangan orang-orang Babel, kita menemukan bahwa para penyerang menawan raja Yoyakhin dan juga ibunda raja, Nehustha yang dalam kisah itu mendapatkan penghormatan yang lebih besar daripada para istri raja (2Raj 24:15; lihat juga Yer 13:18).

Antara Batsyeba sampai Nehustha, ditemukan banyak bunda ratu. Sebagian dari mereka berperan dengan baik, sebagian tidak, tetapi tidak seorangpun dari mereka hanya sekedar sebagai gambaran. “Gebirah” lebih dari sekada gelar, tetapi merupakan suatu jabatan dengan wewenang yang nyata. Simak dan cermatilah kejadian berikut saat awal pemerintahan Salomo, ” Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya.” (1Raj 2:19)

Ayat di atas menyatakan secara implisit tatacara protokoler istana kerajaan dan struktur pemerintahan Israel. Pertama-tama, kita melihat bunda ratu menghampiri anaknya untuk berbicara atas nama orang lain. Hal ini mengukuhkan apa yang kita kenal tentang para bunda ratu dalam kebudayaan bangsa-bangsa tetangga Israel di Timur Tengah. Misalnya kita membaca dalam kisah Epik Gilgamesy, bunda ratu di Mesopotamia dilihat sebagai seorang pengantara atau pembela bagi orang lain.

Kemudian kita melihat bagaimana Salomo bangkit dari takhtanya ketika ibundanya memasuki ruangan. Peristiwa ini membuat bunda ratu menjadi sosok yang unik di tengah-tengah pejabat kerajaan. Mengikuti tatacara protokoler istana, setiap orang harus berdiri di hadapan Salomo, bahkan para istri raja dituntut untuk sujud menyembah di hadapan sang raja (1Raj 1:16). Tetapi Salomo bangkit untuk menghormati Batsyeba. Lebih dari itu, ia menunjukkan penghormatan yang lebih lagi dengan menundukkan kepala dan menyembah dihadapannya dan dengan mempersilakan bunda ratu duduk di tempat yang paling terhormat, yaitu di sebelah kanan raja. Tidak diragukan lagi, hal ini melukiskan tatacara protokoler istana pada zaman Salomo, dan semua tatacara itu mengungkapkan hubungan yang nyata. Apakah yang akan diungkapkan oleh tindakan Salomo tentang statusnya dalam kaitannya dengan ibundanya?

Pertama-tama, kekuasaan dan kewibawaannya bagaimanapun juga tergantung kepada ibundanya. Salomo sujud kepada ibundanya, tetapi tetap dialah yang menjadi raja. Sang bunda ratu duduk di sebelah kanan raja, tidak sebaliknya.

Tetapi jelas sang raja akan menghormati permintaan ibunya bukan atas dasar kewajiban untuk patuh yang diharuskan oleh hukum, tetapi lebih karena dasar kasih seorang anak kepada ibunya. Sehubungan dengan kejadian di atas, jelas dinyatakan bahwa Salomo mengabulkan permintaan ibunya. Ketika Adonai pertama-tama menghampiri Batsyeba untuk memohon pengantaraannya, ia berkata, “Aku mohon, mintalah kepada Raja Salomo, ia tidak akan menolak ibunya.” Meskipun secara teknis Salomo adalah atasan Batsyeba, secara alami dan seturut tata krama, ia tetaplah anaknya.

Juga kita temukan dengan jelas bahwa sang raja bersandar kepada ibundanya sebagai penasihat utama, yang dapat memberikan nasihat atau menyuruh dia sedemikian rupa sehingga beberapa raja harus mengikuti apa yang disampaikan oleh ibunda raja. Kitab Amsal 31 memberikan gambaran yang sangat mengesankan tentang bag seriusnya seorang raja mematuhi nasihat seorang bunda ratu. Nasihat bunda ratu itu disampaikan sebagai “perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan ibunya kepadanya,” dan memberikan petunjuk penting dan praktis tentang seluk beluk pemerintahan. Di sini kita berbicara tentang kebijaksanaan sebuah bangsa. Sebagai penasihat politik dan bahkan sebagai ahli strategi, sebagai jurubicara rakyat, dan sebagai sosok yang dapat berbicara secara terus terang, bunda ratu merupakan pribadi yang unik dalam hubungannya dengan sang raja.

Kunci Daud

Tanpa merujuk kepada Daud, tidak mungkin kita bisa memahami kedatangan Yesus Kristus. Sebab asal-usulnya yang berasal dari Daud merupakan unsur yang penting yang mendasar, bukan saja hanya untuk memahami diri-Nya, tetapi juga untuk memahami harapan-harapan orang-orang yang hidup sezaman -Nya, dan menjadi permenungan teologis para rasul-Nya, pengikut pertama Kristus, seperti rasul Paulus dan rasul Yohanes. Mesias yang dijanjikan haruslah anak Daud, tetapi sekaligus anak Allah (2Sam 7:12-14). Raja kekal itu haruslah berasal dari keluarga Daud, dari “tubuh” Daud. Kalau “bayi laki-laki” datang untuk memerintah segala bangsa, maka Ia akan memerintah sebagai raja keturunan Daud dan dengan gada besi sebagaimana yang dikidungkan oleh Daud sendiri.

Tetapi, penggambaran tersebut tidak boleh berhenti pada kenyataan sejarah kerajaan, gambaran itu haruslah mencakup banyak detail kecil dari kerajaan. Sebagaimana Daud membangun sebuah kota kudus di Yerusalem, demikianlah juga pengganti Daud akan menciptakan Yerusalem surgawi. Sebagaimana pengganti pertama Daud memerintah disamping bunda ratu, demikianlah pengganti Daud yang terakhir dan kekal. Kerajaan Daud mencapai penggenapan kesempurnaan dalam Kerajaan Yesus Kristus, dan di sana tidak pernah ada raja keturunan Daud tanpa bunda ratu keturunan Daud, yaitu ibu Sang Raja sendiri, sang bunda ratu.

Hanya dengan kunci Daud inilah kita dapat menyingkapkan misteri-misteri, misalnya misteri pesta pernikahan di Kana. Bunda Maria menghampiri Puteranya untuk mengantarkan aspirasi dari rakyatnya, persis seperti Batsyeba menghampiri dan berbicara kepada Salomo atas nama Adonai. Maria memberikan nasihat kepada Putranya tentang masalah yang terjadi: [“Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepadaNya: “Mereka kehabisan anggur.” (Yoh 2:3)], tetapi Maria menasihati orang-orang untuk patuh kepada Puteranya, dan bukan patuh kepada dirinya [ “Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5)]. Maka, Yesus berbicara kepada ibunda-Nya sebagai atasan; tetapi Yesus sangat menghormati nasihat Bunda-Nya, Maria, persis seperti diharapkan bahwa seorang raja keturunan Daud mengabulkan keinginan bunda ratu [ Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. (Yoh 2:7)].

Kunci Daud yang sama juga dapat menyingkapkan misteri “perempuan” yang disebut dalam Kitab Wahyu. Perempuan itu dimahkotai dua belas bintang yang mewakili kedua belas suku Israel, sebab “perempuan” itu akan mengandung raja keturunan Daud, anak Daud. Perempuan itu diancam oleh sang naga sebab sekutu-sekutu si ular, keluarga Herodes akan bangkit melawan pemerintahan keluarga Daud dan pengganti Daud. Akhirnya, kerajaan Daud menyempurnakan hubungan antara Adam Lama dan Hawa Lama yang gagal dengan Adam Baru dan Hawa Baru, yang berhasil dan memperoleh penebusan bagi seluruh umat manusia.

Dalam Kitab Kejadian, kita mengetahui bahwa Adam diciptakan pertama dan diberikan kuasa atas bumi. Tetapi Ia tidak pernah bermaksud memerintah seorang diri, “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kej 2:18). Maka Allah menciptakan Hawa, penolong Adam Lama dan ratu. Mereka harus berbagi kekuasaan. Ketika Adam bangun dan menemukan dia, Adam berkata, “Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” (Kej 2:23), suatu ungkapan yang sangat jelas muncul dalam berbagai bagian dalam Alkitab, ketika suku-suku Israel memaklumkan Daud sebagai raja mereka. Ketika menyambut anak muda Daud, mereka berseru, “Kami ini darah dagingmu!”(2Sam 5:1). Dengan demikian, kata-kata Adam dalam Kitab Kejadian dikutip dengan makna yang lebih besar dan dalam: kata-kata itu menjadi aklamasi rajawi.

Dalam Kitab Kejadian, sesudah Adam menyambut Hawa dengan gembira, penulis Kitab Kejadian memberikan pernyataan, ” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kej 2:24). Para penafsir awal Alkitab dibuat bingung oleh ayat ini karena berbagai alasan. Pertama, bahwa dalam kebudayaan purba perempuanlah yang harus meninggalkan keluarga setelah perkawinan, tetapi dalam Kitab Kejadian disebut “seorang laki-laki.” Tetapi yang lebih membingungkan lagi ialah bahwa Kitab Kejadian menyebut ayah dan ibu dalam konteks ini, padahal Adam tidak memiliki ayah atau ibu. Saat mengutip teks dari Kitab Kejadian ini, Rasul Paulus mengakui bahwa misteri ini sangat mendalam, tetapi Rasul Paulus mengungkapkan misteri ini dalam ungkapan yang sama, “yang aku maksudkan adalah hubungan Kristus dengan Gereja (Ef 5:32). Dalam konteks ini Yesuslah yang akan meninggalkan Bapa dan ibu-Nya untuk bersatu dengan Mempelai-Nya, yaitu Gereja.

Maksud dan rencana Allah tidak akan dipenuhi oleh kerajaan pada awal penciptaan, juga tidak oleh Kerajaan Daud, tetapi oleh Kerajaan Allah yang akan muncul kemudian. Adam Baru yaitu Yesus akan memerintah sebagaimana telah digambarkan di taman Eden dan di dalam istana Raja Salomo. Adam Baru yaitu raja baru keturunan Daud, akan memerintah bersama mempelai Nya, yakni Hawa Baru, dan Hawa Baru ini haruslah seorang perempuan historis, yang diidentifikasikan dalam Kitab Wahyu sebagai Gereja. Ia haruslah seorang ibu dari yang hidup. Ia haruslah jurubicara umat manusia. Ia haruslah seorang bunda ratu. Ia tentulah MARIA.

Disarikan dari: Scott Hahn, Hail Holy Queen: The Mother of God in the Word of God, Penerbit Percetakan Dioma, Malang.

Santa Perawan Maria, Bunda Ratu
Doakanlah kami anak-anakmu.
Amin.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *