Sunday, 24 February 2019

Category: Renungan Hidup

Mengapa Disebut “Rabu Abu”?

tj-devosi-640x360Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaska, yang menandai bahwa kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paska. Angka “40″ selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan. Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 34:28), demikian pula Nabi Elia (lih. 1 raj 19:8). Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (lih. Mat 4:2).

1. Mengapa hari Rabu?

Nah, Gereja Katolik menerapkan puasa ini selama 6 hari dalam seminggu (hari Minggu tidak dihitung, karena hari Minggu dianggap sebagai peringatan Kebangkitan Yesus), maka masa Puasa berlangsung selama 6 minggu ditambah 4 hari, sehingga genap 40 hari. Dengan demikian, hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu. (Paskah terjadi hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, dihitung mundur, jatuh pada hari Rabu).

Jadi penentuan awal masa Prapaska pada hari Rabu disebabkan karena penghitungan 40 hari sebelum hari Minggu Paska, tanpa menghitung hari Minggu.

2. Mengapa Rabu “Abu”?

Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (lih. Yun 3:6). Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (Lih. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari Romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”

3. Tradisi Ambrosian

Namun demikian, ada tradisi Ambrosian yang diterapkan di beberapa keuskupan di Italia, yang menghitung Masa Prapaskah selama 6 minggu, termasuk hari Minggunya, di mana kemudian hari Jumat Agung dan Sabtu Sucinya tidak diadakan perayaan Ekaristi, demi merayakan dengan lebih khidmat Perayaan Paskah. Tentang hal ini sudah pernah diulas di sini, silakan klik.

Renungan Rabu, 08 Oktober 2014: Ajarlah Berdoa

Ilustrasi-Renungan-Kamis-13-Maret-2014-Bukan-Sekadar-KataPekan Biasa XXVII; Gal 2:1-2, 7-14; Mzm 117; Luk 11:1-4

Dalam bacaan pertama Paulus menceritakan pengalaman diakui oleh para rasul. Hal itu sungguh tidak mudah. Paulus memerlukan waktu kurang lebih 14 tahun untuk membuktikan perubahan hidup. Paulus melihat seluruh hidupnya adalah sebuah doa dan pujian kepada Allah. Hal itulah yang membuat dia berani hidup sebagai orang benar di hadapan Allah dan sesama.

Mzm 117 adalah mazmur terpendek dari 150 bab dalam Kitab Mazmur. Hanya dua ayat di mana pemazmur memuji kasih dan kesetiaan Tuhan yang berlaku selama-lamanya untuk manusia. Sementara nanti Mzm 119 adalah Mazmur terpanjang dengan 176 ayat. Kedua Mazmur unik ini membungkus Mzm 118 yang merupakan pujian dan syukur atas segala kebaikan Tuhan.

Dalam bacaan Injil, para murid melihat Yesus sedang berdoa. Pada waktu Yesus berhenti berdoa, merekapun meminta Yesus mengajarkan mereka untuk berdoa. Yesus pun mengajarkan mereka tentang doa yang kita kenal sebagai doa Bapa Kami. Artinya, doa Bapa Kami adalah doa Yesus sendiri kepada Bapa-Nya. Inilah rahasia kekuatan Tuhan Yesus untuk menjalani suka duka perutusan-Nya di dunia.

Lagi-lagi, kunci dari doa Yesus pertama- tama adalah suatu ucapan syukur dan pujian kepada Allah, “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu.” Setelah itu barulah rangkaian permohonan seperti mohon rejeki, pengampunan dosa dan pelepasan dari segala pencobaan.

RD Josep Susanto

Bacaan Injil, Rabu 08 Oktober 2014: Luk 11:1-4

Yesus-berdoaLuk 11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.”

Luk 11:2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.

Luk 11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya

Luk 11:4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

Mazmur, Rabu 08 Oktober 2014: Mzm 117:1-2

puji-pujianPujilah Tuhan, hai segala bangsa

Mzm 117:1 Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!

Mzm 117:2 Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!

Bacaan I, Rabu 08 Oktober 2014: Gal 2:1-2,7-14

Ke-Antiokhia-di-PisidaGal 2:1 Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Tituspun kubawa juga.

Gal 2:2 Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi?dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang? supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha.

Gal 2:7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat

Gal 2:8 karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.

Gal 2:9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

Gal 2:10 hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.

Gal 2:11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.

Gal 2:12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id

Renungan Selasa, 07 Oktober 2014: Ia Peduli

Jesus-MenjagamuPw SP Maria, Ratu Rosario; Gal 1:13-24; Mzm 139; Luk 10:38-42
Keajaiban hidup sungguh terjadi bila kita mau melihat campur tangan kasih Tuhan dalam hidup kita. Tuhan yang selalu mengerti dan memahami siapa kita, namun Ia selalu mengasihi kita dan menghendaki kita untuk bahagia. Inilah yang diungkapkan pemazmur hari ini (ay.13-14).
Pengalaman pemazmur sungguh men jadi hidup dalam diri Paulus dalam bacaan pertama. Ia merefleksikan kembali perjalanan hidupnya. Kasih karunia Allah telah mengubah hidup dia secara total. Pengalaman dikasihi Allah inilah yang mendorong Paulus untuk menjalani misi baru, yaitu mewartakan kemuliaan Allah kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi.
Tuhan yang sungguh mengerti dan peduli dengan hidup kita terungkap dalam kisah Maria dan Marta. Tuhan Yesus meluruskan teguran Marta yang karena kesibukannya berkata kepada Yesus, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli?” Yesus memahami gerak hati setiap umat-Nya. Ia menghendaki kita agar tidak perlu iri hati seolah Tuhan tidak adil dan pilih kasih.
RD Josep Susanto

Bacaan Injil, Selasa 07 Oktober 2014: Luk 10:38-42

Maria-Marta-dan-YesusMaria dan Marta

Luk 10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.

Luk 10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,

Luk 10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Luk 10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,

Luk 10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Sumber: Alkitab dikutip dari www.imankatolik.or.id