Saturday, 25 November 2017

Category: Renungan Hidup

HOMILI PERKAWINAN

Oleh: Romo Purbo

Bacaan 1 Kejadian 2:18
injil Yohanes 15:1-8

Stevani dan Daniel mempersiapkan acara ini nampak dengan mantap, pada waktu kita mempersiapkan bersama hari-hari kemarin di tempat ini suasana yang sangat mencolok adalah dengan rileks Daniel dan stevani mempersiapkan semuanya, sekarang ini Daniel agak tegang tetapi hari2 kemarin tidak.

Waktu jalan ke depan altar tadi senyum2 , menurut saya ungkapan gembira ini amat penting karena Stevani dan Daniel mengawali peristiwa penting ini dengan hati penuh syukur dengan hati penuh kegembiraan, Roh yang penuh syukur, roh yang penuh kegembiraan inilah yang perlu dibawa dalam perjalanan hidup yang panjang, apapun nanti keadaannya, apapun yang  dijumpai dalam keluarga jangan sampai kegembiraan syukur ini hilang atau berkurang, pokoknya kapanpun dan dimana pun hatinya penuh gembira dan syukur, itulah kekuatan istimewa orang berumah tangga.

saya juga merasa kurang nyaman atau ikut sedih kalau semuanya dimulai dengan peristiwa cemberut tidak mengungkapkan peristiwa gembira padahal ini adalah hari penuh kasih hari penuh kegembiraan, terima kasih hati yang penuh syukur dan kegembiraan ini, bagi saya pribadi ini mengungkapkan anda mantap memilih pasangan hidup, mantap menanggapi panggilan Tuhan.

Dengan keyakinan itu perjalanan panjang yang akan dijalani, dengan langka yang mantap pula. Satu dua pesan dari bacaan tadi kita dengarkan bacaan pertama berkisah tentang penciptaan dunia termasuk penciptaan manusia tetapi secara khusus diciptakan serta ciptaanw lain dikatakan bahwa Tetapi baginya sendiri Ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia, dari semua ciptaan yang ada setelah adam diciptakan tak satupun ciptaan yang sepadan dengan adam maka pertimbangan itu diciptakan kemudian manusia baru yang bernama Hawa, tentu dengan maksudnya jelas Hawa itu pribadi yang sepadan dengan Adam dan bersama-sama sebagai dua pribadi mereka dipanggil untuk saling mengasihi.

Maka teks ini kalau dibaca pada siang hari ini mungkin bunyinya secara sederhana akan menjadi seperti ini Tuhan Allah berfirman Tidak baik kalau Daniel itu seorang diri saja Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia Namanya Stevani. Ketika Daniel tidur Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya lalu menutupnya dengan daging dan rusuk yanh diambil dari Tuhan Allah dari manusia itu diciptakanlah seorang perempuan yaitu Stevani, lalu dibawanya kepada Daniel itu. Berkatalah Allah kepada Daniel inilah tulang dari tulang mu dan daging dari daging mu, ia akan menamai dia perempuan sebab ia diambil dari laki2 sebab itu daniel akan meninggalkan papa mamanya bersatu dengan Stevani istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging.

Saya harap kitab suci yang telah.dipilih ini meneguhkan keputusan dan pengalaman yang selama ini sudah dialami daniel dan stevani. Stevani tidak dari mana-mana selain dari Tuhan yang ingin Daniel tidak sendirian ada pasangan semartabat yang akan seiring sejalan menanggapi panggilan Tuhan.

Panggilan utama manusia adalah mengasihi pasangan hidup, ada banyak ciptaan lain diberi kepada manusia untuk "Dikuasai" tetapi bukan itu panggilannya utamanya. Panggilan utamanya adalah mengasihi pasangan hidup dan anugerah yang lain adalah menyempurnakan paggilan kasih ini.

Maka pesan saya adalah untuk Stevani dan daniel, saya harap mulai dari hari ini sampai kapanpun yakinlah bahwa panggilan yang utama, anugerah yang utama adalah pasangan hidup dan keluarga anda, yang lain dianugerahkan untuk menyempurnakan itu, urutan ini tidak boleh diubah.

Andaikata banyak anugerah lain yang diistimewa fungsinya satu, menyempurnakan kasih stevani dan daniel secara timbal balik. Maka kalau sedang banyak berkat disyukuri berdua tidak sendiri-sendiri, kalau ada tantangan dan kesulitan dipikul bersama-sama itulah makna sabda Tuhan yang stevani dan daniel pilih menyertai peristiwa ini.

Sedangkan Bacaan injil itu berkisah tentang perintah untuk saling mengasihi, Injilnya singkat, tetapi kalau daniel dan stevani membaca teks ini muncul setelah kisah perumpamaan pokok anggur dan ranting pesannya hanya satu, ranting hanya bisa hidup dan  berbuah kalau kasih stevani dan daniel  dekat dengan Tuhan, tanpa dekat dengan Tuhan tidak akan berbuah banyak.

Maka pesan saya mewujudkan panggilan berkeluarga dan mewujudkan kasih sumbernya satu pada Tuhan Yesus sendiri, pesan 3 jangan pernah melupakan Tuhan dalam hidup, saya harap tidak hanya hari ini kita berjumpa, suatu saat saya melihat daniel dan stevani pergi ibadah bersama-sana di wilayah rohani dan hidup menggereja berdoa mohon rachmat Tuhan supaya hidupnya nempel pada pokok anggur.

Sesibuk apa pun jangan pernah lupa Tuhan, karena kalau lupa Tuhan, kata2 dalam injil akan menjadi kering dan tak pernah berbuah. Sebaliknya waktu stevani dan daniel dekat pada Tuhan buah kasih akan melimpah.

Sekali lagi Proficiat, saya berdoa buat stevani dan daniel semoga berbahagia, saya berdoa semoga kasih anda berdua terus tumbuh dengan saling berkurban dan saling mencintai dan memaafkan satu dengan yang lain terus menerus, itulah kunci orang rumah tangga dan berikutnya saya mohon berkat supaya dianugerahi berkat dan kesejahteraan dan tidak kalah penting dianugerahi buah kasih anak2, doakan ini terus dalam perjalanan rumah tangga pasti kesempurnaan dan kebahagiaan dianugerahkan kepada stevani dan daniel sekali lagi proficiat turut bersyukur dan berbahagia AMIN.

Surat rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.  (1Tes 5:16-18).

Orang yang ada di dalam Tuhan,
Katakan kepada jiwamu yang letih lesu
Bersyukur kepada Tuhan sebab kasih setia selama lamanya,

Bersyukur kepada Tuhan bahwasanya pertolongannya akan datang tepat waktu.

Bersyukur kepada Tuhan <br>
Bahwasanya kemurahanNya tidak pernah meninggalkan engkau dan saya.

Bersyukur kepada Tuhan pengampunanNya selalu diberikan bagimu dan bagiku.

Bersyukur kepada Tuhan bahwasanya damai sejahtera selalu ada dalam hatimu dan hatiku dalam setiap keadaan.

Bersyukur kepada Tuhan sebab kasih setianya untuk selama-lamanya.

Share Button

HOMILI PERKAWINAN

Oleh: Romo Purbo

Stevani dan Daniel mempersiapkan acara ini nampak dengan mantap, pada waktu kita mempersiapkan bersama hari-hari kemarin di tempat ini suasana yang sangat mencolok adalah dengan rileks Daniel dan stevani mempersiapkan semuanya, sekarang ini Daniel agak tegang tetapi hari2 kemarin tidak.

Waktu jalan ke depan altar tadi senyum2 , menurut saya ungkapan gembira ini amat penting karena Stevani dan Daniel mengawali peristiwa penting ini dengan hati penuh syukur dengan hati penuh kegembiraan, Roh yang penuh syukur, roh yang penuh kegembiraan inilah yang perlu dibawa dalam perjalanan hidup yang panjang, apapun nanti keadaannya, apapun yang&nbsp; dijumpai dalam keluarga jangan sampai kegembiraan syukur ini hilang atau berkurang, pokoknya kapanpun dan dimana pun hatinya penuh gembira dan syukur, itulah kekuatan istimewa orang berumah tangga.

saya juga merasa kurang nyaman atau ikut sedih kalau semuanya dimulai dengan peristiwa cemberut tidak mengungkapkan peristiwa gembira padahal ini adalah hari penuh kasih hari penuh kegembiraan, terima kasih hati yang penuh syukur dan kegembiraan ini, bagi saya pribadi ini mengungkapkan anda mantap memilih pasangan hidup, mantap menanggapi panggilan Tuhan.

Dengan keyakinan itu perjalanan panjang yang akan dijalani, dengan langka yang mantap pula. Satu dua pesan dari bacaan tadi kita dengarkan bacaan pertama berkisah tentang penciptaan dunia termasuk penciptaan manusia tetapi secara khusus diciptakan serta ciptaanw lain dikatakan bahwa Tetapi baginya sendiri Ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia, dari semua ciptaan yang ada setelah adam diciptakan tak satupun ciptaan yang sepadan dengan adam maka pertimbangan itu diciptakan kemudian manusia baru yang bernama Hawa, tentu dengan maksudnya jelas Hawa itu pribadi yang sepadan dengan Adam dan bersama-sama sebagai dua pribadi mereka dipanggil untuk saling mengasihi.

Maka teks ini kalau dibaca pada siang hari ini mungkin bunyinya secara sederhana akan menjadi seperti ini Tuhan Allah berfirman Tidak baik kalau Daniel itu seorang diri saja Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia Namanya Stevani. Ketika Daniel tidur Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya lalu menutupnya dengan daging dan rusuk yanh diambil dari Tuhan Allah dari manusia itu diciptakanlah seorang perempuan yaitu Stevani, lalu dibawanya kepada Daniel itu. Berkatalah Allah kepada Daniel inilah tulang dari tulang mu dan daging dari daging mu, ia akan menamai dia perempuan sebab ia diambil dari laki2 sebab itu daniel akan meninggalkan papa mamanya bersatu dengan Stevani istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging.

Saya harap kitab suci yang telah.dipilih ini meneguhkan keputusan dan pengalaman yang selama ini sudah dialami daniel dan stevani. Stevani tidak dari mana-mana selain dari Tuhan yang ingin Daniel tidak sendirian ada pasangan semartabat yang akan seiring sejalan menanggapi panggilan Tuhan.

Panggilan utama manusia adalah mengasihi pasangan hidup, ada banyak ciptaan lain diberi kepada manusia untuk &quot;Dikuasai&quot; tetapi bukan itu panggilannya utamanya. Panggilan utamanya adalah mengasihi pasangan hidup dan anugerah yang lain adalah menyempurnakan paggilan kasih ini.

Maka pesan saya adalah untuk Stevani dan daniel, saya harap mulai dari hari ini sampai kapanpun yakinlah bahwa panggilan yang utama, anugerah yang utama adalah pasangan hidup dan keluarga anda, yang lain dianugerahkan untuk menyempurnakan itu, urutan ini tidak boleh diubah.

Andaikata banyak anugerah lain yang diistimewa fungsinya satu, menyempurnakan kasih stevani dan daniel secara timbal balik. Maka kalau sedang banyak berkat disyukuri berdua tidak sendiri-sendiri, kalau ada tantangan dan kesulitan dipikul bersama-sama itulah makna sabda Tuhan yang stevani dan daniel pilih menyertai peristiwa ini.

Sedangkan Bacaan injil itu. berkisah tentang perintah untuk saling mengasihi, Injilnya singkat, tetapi kalau daniel dan stevani membaca teks ini muncul setelah kisah perumpamaan pokok anggur dan ranting pesannya hanya satu, ranting hanya bisa hidup dan bebuah kalau ranting hanya bisa hidup dan berbuah kalau kasih stevani dan daniel hanya berbuah kalau stevani dan daniel dekat dengan Tuhan tanpa dekat dengan Tuhan tidak akan berbuah banyak.

Maka pesan saya mewujudkan panggilan berkeluarga dan mewujudkan kasih sumbernya satu pada Tuhan Yesus sendiri, pesan 3 jangan pernah melupakan Tuhan dalam hidup, saya harap tidak hanya hari ini kita berjumpa, suatu saat saya melihat daniel dan stevani mampir di gereja katedral berdoa mohon rachmat Tuhan.

Saya sering melihat banyak bapak sebelum ke kantor mampir di katedral untuk apa, untuk mohon berkat Tuhan supaya hidupnya nempel pada pokok anggur.
Sesibuk apa pun jangan pernah lupa Tuhan, karena kalau lupa Tuhan, kata2 dalam injil akan menjadi kering dan tak pernah berbuah. Sebaliknya waktu stevani dan daniel dekat pada Tuhan buah kasih akan melimpah.

Sekali lagi Proficiat, saya berdoa buat stevani dan daniel semoga berbahagia, saya berdoa semoga kasih anda berdua terus tumbuh dengan saling berkurban dan saling mencintai dan memaafkan satu dengan yang lain terus menerus, itulah kunci orang rumah tangga dan berikutnya saya mohon berkat supaya dianugerahi berkat dan kesejahteraan dan tidak kalah penting dianugerahi buah kasih anak2, doakan ini terus dalam perjalanan rumah tangga pasti kesempurnaan dan kebahagiaan dianugerahkan kepada stevani dan daniel sekali lagi proficiat turut bersyukur dan berbahagia AMIN.

Share Button

Katakese Bulan Rosario

Berkatalah perempuan itu: “Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku.” Jawab raja kepadanya: “Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu.” (1Raj 2:20)

Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari padaKu, ibu? SaatKu belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. (Yoh 2:4-5,7)

KATEKESE BULAN ROSARIO: KEPENGANTARAAN BUNDA MARIA

Damai Kristus
Pertama untuk merayakan Bulan Oktober untuk penghormatan Gereja Katolik kepada Santa Perawan Maria. Dan kedua pada hari ini, 13 Oktober 2017 kita semua mengenang 100 tahun Bunda Maria menampakkan diri untuk terakhir kalinya kepada Yacinta, Francesco dan Lucia di Fatima.

Mengapa Gereja Katolik mengajarkan kuat kuasa dan iman akan peran unik kepengantaraan Bunda Maria dalam doa doa kita? Mari kita bersama mempelajari apa yang dikehendaki oleh Allah lewat pengajaran Gereja Katolik.

Ajaran Gereja: Magisterium

Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: “Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi. Pengaruh tersebut mengalir dari kelimpahan pahala Kristus, bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.” (Lumen Gentium 60)

BAB IV: KUASA DI BELAKANG TAKHTA

BUNDA RATU DAN RAJA KETURUNAN DAUD

Telah kita lihat, baik dalam Injil Yohanes maupun dalam Kitab Wahyu, bagaimana karya penebusan Yesus menggenapi banyak gambaran atau bayangan dalam Kitab Kejadian. Ciptaan pertama menggambarkan pembaruan dan penebusan semesta alam oleh Yesus Kristus (Why 21:5). Taman Eden adalah gambaran dari Taman Getsemani. Pohon di taman Eden menggambarkan kayu salib. Adam adalah gambaran Yesus Kristus, Hawa adalah gambaran Santa Perawan Maria.

Tetapi dalam menelaah Kitab Wahyu 12, kita juga menangkap sekilas pola gambaran yang lain. Pola pertama, yang melihat Maria sebagai tabut perjanjian, mau tidak mau mengantar kita kembali kepada Musa, yang mengembara bersama bani Israel di padang gurun selama 40 tahun. Bangsa Israel yang mengikuti Musa, “…ditebus oleh darah Anak Domba” (Why 12:11), ketika anak-anak sulung mereka dibebaskan pada Paskah pertama. Dengan cara yang sama, Israel baru “ditebus… oleh darah Anak Domba” yaitu Yesus Kristus, yang adalah Musa Baru, pemberi hukum yang baru. Mengikuti pola ini, kita juga dapat melihat saudari Musa yang bernama Miriam (=Maria) seperti Hawa, ibu yang gagal, yang melahirkan penyembahan berhala dan pemberontakan terhadap kuasa yang ditetapkan oleh Allah. Tetapi, dalam Perjanjian Baru, tampil seorang Miriam baru, yang akan menjadi gambaran dan model ketaatan yang sempurna.

Disamping itu, pola penggambaran yang lebih mengesankan adalah apa yang kita temukan dalam Kerajaan Daud. Kerajaan Daud bagi bangsa Israel kuno merupakan gambaran Kerajaan Mesias. Daud, raja Ibrani kedua berhasil mempersatukan kedua belas suku Israel dan membangun kota Yerusalem sebagai ibukota kerajaan dan pusat kehidupan keagamaan. Bangsa Israel sangat menghormati Daud karena kejujuran, keadilan, dan kesetiaannya kepada Tuhan. Tetapi para pengganti dan penerus Daud tidak pernah sungguh-sungguh menghayati dan meneladani keutamaan leluhur mereka. Jika Daud berhasil mempersatukan seluruh suku-suku Israel, tetapi raja-raja penerusnya menaburkan kebencian di kalangan suku-suku Israel. Akhirnya kebencian itu mengarah ke pemberontakan dan perpecahan Kerajaan Israel yang dulunya bersatu. Bangsa Israel menjadi lemah dan rentan dan mudah ditakhlukan oleh musuh-musuhnya. Ketika Israel diserang oleh orang-orang dari Babel, orang-orang Israel dibawa ke pembuangan, dan keturunan Daud hampir punah dibunuh oleh musuh. Zedekia, raja keturunan Daud terakhir dibiarkan untuk tetap hidup untuk menyaksikan bagaimana orang-orang Kaldea musuhnya membantai semua anak Zedekia, sebelum akhirnya mereka mencungkil mata Zedekia sehingga gambaran terakhir yang melekat pada ingatannya adalah jenazah anak-anaknya, demikianlah akhir dari dinasti Kerajaan Daud (2Raj 25:7).

Tetapi kemudian selama masa pembuangan dan dalam pasang surut sejarah bangsa Israel, bangsa Israel melihat ke depan bahwa mereka menantikan kedatangan kembali Kerajaan Daud yang dicita-citakan sebagai penggenapan kelak dengan kedatangan Mesias, raja dan imam yang diurapi oleh Allah. Bahkan pada zaman Yesus, orang-orang Farisi tidak ragu-ragu mengidentifikasikan Mesias sebagai “Anak Daud” (Mat 22:42). Karena Tuhan telah menjanjikan kepada Daud bahwa seorang raja dari garis keturunannya akan memerintah segala bangsa, dan ia akan memerintah untuk selama-lamanya,” Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.”(2Sam 7:12-14). Kita juga temukan janji Allah tersebut dalam Kitab Mazmur, ” TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud, Ia tidak akan memungkirinya: “Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu; jika anak-anakmu berpegang pada perjanjianKu, dan pada peraturan-peraturanKu yang Kuajarkan kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas takhtamu.” Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukanNya: “Inilah tempat perhentianKu selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya.” (Mzm 132:11-14)

Para nabi-nabi Perjanjian Lama memadukan kenangan indah dan kerinduan bangsa Israel ini dan menubuatkan kedatangan Mesias dengan ketepatan dan kecermatan yang mengagumkan. Bahkan sebelum zaman Zedekia, Nabi Yesaya telah menubuatkan bahwa keturunan Daud, silsilah keluarga ayah Daud yaitu Isai akan menjadi “tunggul”, tetapi dari tunggul itu akan muncul “tunas”, bahkan cabang, yaitu Mesias (Yes 11:1). Lalu berkatalah nabi Yesaya: “Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. (Yes 7:13-14)

Silsilah yang Aneh

Kata-kata pembuka dari Perjanjian Baru yang menggenapi nubuat para nabi Perjanjian Lama dan kerinduan bangsa Israel akan datangnya Mesias, “Inilah silsilah Yesus, anak Daud”(Mat 1:1). Sejak awal mula, Matius mengidentifikasikan Yesus sebagai anak Daud, Sang Mesias yang sudah lama dinantikan oleh bangsa Israel. Tetapi Matius melakukan pembuatan silsilah ini dengan cara yang aneh, tidak lazim dan sama sekali baru. Secara tradisional, suatu silsilah merupakan daftar keturunan yang hanya menyebutkan figur laki-laki. Tetapi, Matius menyimpang dari pembuatan suatu silsilah dari kelaziman tersebut, Matius memasukkan empat nama figur perempuan. Apalagi keempat perempuan ini semuanya jauh dari pandangan bangsa Israel tentang kemurnian, baik moral maupun rasial.

Figur perempuan pertama yang disebut oleh Matius dalam silsilah itu adalah Tamar (Mat 1:3), seorang perempuan Kanaan yang mempunyai skandal hubungan seksual dengan mertuanya (Kej 38:15-18). Perempuan kedua adalah Rahab, seorang kafir dan pelacur Kanaan (Mat 1:5; Yos 1:1-24). Perempuan yang ketiga adalah Ruth, seorang kafir yang lain, perempuan Moab (Mat 1:5). Dan perempuan terakhir yang sangat menarik dan disebut oleh Matius dalam daftar silsilah tersebut adalah Batsyeba, istri Uria orang Hitit (Mat 6), yang secara jelas melakukan perzinahan dengan Raja Daud.

Penginjil Matius tampak dengan jelas menyimpang dari kelaziman dan peraturan pembuatan silsilah dengan memasukkan perempuan tersebut dalam silsilah Yesus, anak Daud. Tetapi sebenarnya Matius melakukan sesuatu prinsip yang sungguh cerdik: “hantam dulu baru kemudian meminta maaf.” Dengan menempatkan perempuan-perempuan kafir dan dengan reputasi moral yang tidak baik di antara leluhur Yesus, anak Daud, Matius secara efektif dan tepat menggugurkan argumentasi dari siapapun juga yang mempertanyakan mandat mesianis Yesus, anak Daud. Sudah pasti, Penginjil Matius sudah tahu bahwa klaim Yesus yang dikandung oleh seorang perawan muda akan membangkitkan senyum sinis orang-orang yang meragukan kemesiasan Yesus. Dan hal ini memang terjadi. Yesus disebut sebagai anak haram di berbagai bagian Kitab Talmud Yahudi, dan julukan “Putra Maria” terhadap Yesus adalah suatu bentuk pelecehan. Tradisi Yahudi selalu menyebut seseorang sebagai “anak” dari ayahnya. Hanya orang yang tidak punya ayah disebut sebagai “anak” dari ibu). Tetapi Matius sengaja menantang para pembaca dari orang-orang Yahudi untuk mengajukan pertanyaan dan perhatian khusus sehubungan dengan nenek moyang Yesus. Sebab jika orang-orang Yahudi melecehkan Yesus sebagai “Putra Maria”, maka raja Salomo yang adalah “anak idaman raja Daud” sudah empat kali terputus alurnya. Karena Salomo memiliki leluhur perempuan yang sama dengan Yesus dan yang terakhir dari mereka adalah Batsyeba, yang adalah ibu Salomo sendiri.

Matius, dengan silsilah aneh tersebut menyelamatkan wibawa kemesiasan Yesus dan sekaligus menunjukkan karya penyelenggaraan ilahi dalam peristiwa perkandungan seorang perawan muda dari Nazaret. Tanpa mengacu kepada Daud, Kerajaan Mesias, janji Allah, nubuat-nubuat para nabi, tidak seorangpun yang dapat mengerti dan memahami kedatangan Yesus Kristus. Penginjil Matius melanjutkan pembelaan terhadap kemesiasan Yesus terhadap alur argumentasi miring di atas dengan menyampaikan nubuat nabi Yesaya bagaimana Imanuel, “Allah beserta kita” (Mat 1:23), dikandung oleh seorang perawan. Beberapa pernyataan berikutnya, ketika Matius mengisahkan kelahiran Yesus di Betlehem, kota Daud, ia mengutip nubuat nabi Mika 5:1, “Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel.” (Mat 2:6). Dan akhirnya saat menutup kisahnya tentang masa kanak-kanak Yesus, Matius menggambarkan keluarga Kudus menetap di “sebuah kota yang bernama Nazaret” (Mat 2:23). Akar kata Nazaret adalah “nester” atau “cabang”, dan “cabang” ini adalah nama yang diberikan oleh nabi Yesaya kepada Mesias, yang kelak bertunas dari tunggul Isai (Yes 11:1).

Melihat Bintang-bintang

Demikianlah dari awal Perjanjian Baru kita melihat bahwa Kerajaan Daud seperti halnya taman Eden adalah antisipasi tunggal untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus. Dalam kerangka ini, detail-detail kecil dari kerajaan Daud seperti detail detail kecil dari Protoevangelium memiliki arti yang sangat berharga. Struktur pemerintahan dalam Kerajaan Daud sama sekali bukanlah suatu kebetulan, dalam rencana penyelenggaraan Allah, struktur pemerintahan ini sungguh menggambarkan Kerajaan Allah.

Pada akhir Perjanjian Baru, dalam Kitab Wahyu, gambaran Kerajaan Daud yang dibeberkan secara berkesinambungan dalam bab 11 dan 12, mengingatkan permohonan raja Daud seperti yang ditunjukkan dalam Mazmur 2. Mazmur tersebut dimulai dengan, ” Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?” (Mzm 2:1). Sebaliknya, Kitab Wahyu menunjukkan bagaimana “bangsa-bangsa rusuh”, mendatangkan “murka” Allah atas diri mereka sendiri (Why 11:18; lih juga Maz 2:5). Dalam Mzm 2, Allah memberitahukan raja Daud, ” Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: “AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” (Mzm 2:7), ini merupakan antisipasi kata-kata yang diucapkan oleh Allah Bapa atas Yesus pada saat pembaptisan Yesus, “lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” (Mat 3:17). Anak Daud akan memerintah bangsa-bangsa dengan gada besi, demikianlah dinyatakan dalam Mzm 2:8-9. Dalam Kitab Wahyu, janji ini digenapi dalam “seorang perempuan” melahirkan “anak laki-lakinya” yang akan “memerintah segala bangsa dengan gada besi” (Why 12:5).

Maka melanjutkan tentang telaah Kitab Wahyu, dalam kaitannya dengan gambaran Kerajaan Daud, bagaimana kita dapat memahami “perempuan berselubungkan matahari dan bermahkota dua belas bintang?”

Pertama, jelas perempuan itu haruslah menduduki tempat yang tinggi dalam hubungan dengan Israel, yaitu kedua belas suku Israel yang digambarkan dalam dua belas bintang yang memahkotai perempuan itu. Sungguh penglihatan surgawi Rasul Yohanes itu mengingatkan kita kepada mimpi yang dialami oleh Bapa Bangsa Yusuf dalam Kitab Kejadian tentang “matahari, bulan dan sebelas bintang…yang sujud menyembah kepadanya (Kej 37:9). Dalam mimpi Yusuf, kesebelas bintang itu mewakili saudara-saudaranya, sesama Bapa Bangsa suku-suku Israel yang lainnya.

Tetapi masih ada hal-hal lain yang perlu diperjelas tentang perempuan dalam Kitab Wahyu. Karena pada masa kejayaan perjanjian lama, kedua belas suku Israel itu sungguh-sungguh bersatu dan dipersatukan oleh dan semuanya patuh kepada seorang perempuan istana Kerajaan Daud, dan sosok ini jelas menggambarkan perempuan yang kita jumpai dalam Kitab Wahyu.

Bunda Ratu

Kerajaan Israel hidup dalam situasi sejarah yang sangat khas, dan berkembang dalam wilayah geografis setempat. Di kawasan Timur Tengah kuno, sebagian besar bangsa mengikuti suatu sistem pemerintahan kerajaan yang diperintah oleh seorang raja. Di samping itu, kebanyakan tradisi budaya di sana menganut poligami, dengan demikian seorang raja sering memiliki beberapa orang istri. Hal ini tentu saja menimbulkan beberapa permasalahan. Pertama, siapakah yang akan dihormati oleh rakyat sebagai Ratu? Dan yang lebih penting, anak siapakah yang akan memiliki hak untuk mewarisi takhta kerajaan?

Dalam sebagian besar kebudayaan Timur Tengah, kedua permasalahan ini dipecahkan dengan suatu kebiasaan atau tradisi. Perempuan yang dihormati sebagai ratu adalah ibunda sang raja, bukan istrinya. Di balik praktik itu ada unsur keadilan, karena seringkali kekuasaan ibulah yang memenangkan takhta kerajaan bagi puteranya. Tradisi ini juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan kekuasaan dalam suatu bangsa. Sebagai istri dari raja terdahulu dan ibu dari raja yang sedang berkuasa, bunda ratu memainkan peran penting dalam kesinambungan suksesi kerajaan.

Peran bunda ratu di kalangan bangsa-bangsa bukan Yahudi sudah sangat kokoh pada zaman bangsa Israel mulai menuntut suatu bentuk pemerintahan kerajaan. Karena pada saat itu Israel belum pernah menjadi suatu kerajaan. Dalam rencana Allah, Allah lah yang akan menjadi raja mereka (1Sam 8:7). Tetapi bangsa Israel meminta kepada Samuel untuk memberi kepada mereka seorang raja, ” Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.” (1Sam 8:19-20). Maka Allah mengizinkan umat Israel menempuh jalannya sendiri. Tetapi demi kemuliaan-Nya: seturut penyelenggaraanNya, Israel harus menggambarkan Kerajaan Putera Allah sendiri. Kerajaan Israel harus menjadi gambaran Kerajaan Allah.

Secara historis, untuk mewujudkan sistem pemerintahan kerajaan seperti itu, bangsa Israel harus melihat ke bangsa-bangsa lain di sekitarnya untuk mencari model pemerintahan. Ingatlah bahwa mereka menghendaki seorang raja supaya mereka, “sama seperti bangsa-bangsa lain.” Maka dengan mengikuti model pemerintahan bangsa lain disekitarnya, bangsa Israel mendirikan sebuah dinasti pemerintahan, sistem hukum, pengadilan kerajaan dan bunda ratu. Kita menemukan semua hal tersebut saat Israel memulai pemerintahan kerajaan yang dimulai pada awal dinasti Daud. Pengganti raja Daud yang pertama, Salomo memerintah kerajaan bersama ibunya yaitu Batsyeba yang duduk di sebelah kanan raja Salomo. Demikianlah, bunda ratu Israel atau “gebirah” (ibu negara), tampil sepanjang sejarah kerajaan Israel sampai pada akhirnya. Ketika Yerusalem jatuh ke tangan orang-orang Babel, kita menemukan bahwa para penyerang menawan raja Yoyakhin dan juga ibunda raja, Nehustha yang dalam kisah itu mendapatkan penghormatan yang lebih besar daripada para istri raja (2Raj 24:15; lihat juga Yer 13:18).

Antara Batsyeba sampai Nehustha, ditemukan banyak bunda ratu. Sebagian dari mereka berperan dengan baik, sebagian tidak, tetapi tidak seorangpun dari mereka hanya sekedar sebagai gambaran. “Gebirah” lebih dari sekada gelar, tetapi merupakan suatu jabatan dengan wewenang yang nyata. Simak dan cermatilah kejadian berikut saat awal pemerintahan Salomo, ” Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya.” (1Raj 2:19)

Ayat di atas menyatakan secara implisit tatacara protokoler istana kerajaan dan struktur pemerintahan Israel. Pertama-tama, kita melihat bunda ratu menghampiri anaknya untuk berbicara atas nama orang lain. Hal ini mengukuhkan apa yang kita kenal tentang para bunda ratu dalam kebudayaan bangsa-bangsa tetangga Israel di Timur Tengah. Misalnya kita membaca dalam kisah Epik Gilgamesy, bunda ratu di Mesopotamia dilihat sebagai seorang pengantara atau pembela bagi orang lain.

Kemudian kita melihat bagaimana Salomo bangkit dari takhtanya ketika ibundanya memasuki ruangan. Peristiwa ini membuat bunda ratu menjadi sosok yang unik di tengah-tengah pejabat kerajaan. Mengikuti tatacara protokoler istana, setiap orang harus berdiri di hadapan Salomo, bahkan para istri raja dituntut untuk sujud menyembah di hadapan sang raja (1Raj 1:16). Tetapi Salomo bangkit untuk menghormati Batsyeba. Lebih dari itu, ia menunjukkan penghormatan yang lebih lagi dengan menundukkan kepala dan menyembah dihadapannya dan dengan mempersilakan bunda ratu duduk di tempat yang paling terhormat, yaitu di sebelah kanan raja. Tidak diragukan lagi, hal ini melukiskan tatacara protokoler istana pada zaman Salomo, dan semua tatacara itu mengungkapkan hubungan yang nyata. Apakah yang akan diungkapkan oleh tindakan Salomo tentang statusnya dalam kaitannya dengan ibundanya?

Pertama-tama, kekuasaan dan kewibawaannya bagaimanapun juga tergantung kepada ibundanya. Salomo sujud kepada ibundanya, tetapi tetap dialah yang menjadi raja. Sang bunda ratu duduk di sebelah kanan raja, tidak sebaliknya.

Tetapi jelas sang raja akan menghormati permintaan ibunya bukan atas dasar kewajiban untuk patuh yang diharuskan oleh hukum, tetapi lebih karena dasar kasih seorang anak kepada ibunya. Sehubungan dengan kejadian di atas, jelas dinyatakan bahwa Salomo mengabulkan permintaan ibunya. Ketika Adonai pertama-tama menghampiri Batsyeba untuk memohon pengantaraannya, ia berkata, “Aku mohon, mintalah kepada Raja Salomo, ia tidak akan menolak ibunya.” Meskipun secara teknis Salomo adalah atasan Batsyeba, secara alami dan seturut tata krama, ia tetaplah anaknya.

Juga kita temukan dengan jelas bahwa sang raja bersandar kepada ibundanya sebagai penasihat utama, yang dapat memberikan nasihat atau menyuruh dia sedemikian rupa sehingga beberapa raja harus mengikuti apa yang disampaikan oleh ibunda raja. Kitab Amsal 31 memberikan gambaran yang sangat mengesankan tentang bag seriusnya seorang raja mematuhi nasihat seorang bunda ratu. Nasihat bunda ratu itu disampaikan sebagai “perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan ibunya kepadanya,” dan memberikan petunjuk penting dan praktis tentang seluk beluk pemerintahan. Di sini kita berbicara tentang kebijaksanaan sebuah bangsa. Sebagai penasihat politik dan bahkan sebagai ahli strategi, sebagai jurubicara rakyat, dan sebagai sosok yang dapat berbicara secara terus terang, bunda ratu merupakan pribadi yang unik dalam hubungannya dengan sang raja.

Kunci Daud

Tanpa merujuk kepada Daud, tidak mungkin kita bisa memahami kedatangan Yesus Kristus. Sebab asal-usulnya yang berasal dari Daud merupakan unsur yang penting yang mendasar, bukan saja hanya untuk memahami diri-Nya, tetapi juga untuk memahami harapan-harapan orang-orang yang hidup sezaman -Nya, dan menjadi permenungan teologis para rasul-Nya, pengikut pertama Kristus, seperti rasul Paulus dan rasul Yohanes. Mesias yang dijanjikan haruslah anak Daud, tetapi sekaligus anak Allah (2Sam 7:12-14). Raja kekal itu haruslah berasal dari keluarga Daud, dari “tubuh” Daud. Kalau “bayi laki-laki” datang untuk memerintah segala bangsa, maka Ia akan memerintah sebagai raja keturunan Daud dan dengan gada besi sebagaimana yang dikidungkan oleh Daud sendiri.

Tetapi, penggambaran tersebut tidak boleh berhenti pada kenyataan sejarah kerajaan, gambaran itu haruslah mencakup banyak detail kecil dari kerajaan. Sebagaimana Daud membangun sebuah kota kudus di Yerusalem, demikianlah juga pengganti Daud akan menciptakan Yerusalem surgawi. Sebagaimana pengganti pertama Daud memerintah disamping bunda ratu, demikianlah pengganti Daud yang terakhir dan kekal. Kerajaan Daud mencapai penggenapan kesempurnaan dalam Kerajaan Yesus Kristus, dan di sana tidak pernah ada raja keturunan Daud tanpa bunda ratu keturunan Daud, yaitu ibu Sang Raja sendiri, sang bunda ratu.

Hanya dengan kunci Daud inilah kita dapat menyingkapkan misteri-misteri, misalnya misteri pesta pernikahan di Kana. Bunda Maria menghampiri Puteranya untuk mengantarkan aspirasi dari rakyatnya, persis seperti Batsyeba menghampiri dan berbicara kepada Salomo atas nama Adonai. Maria memberikan nasihat kepada Putranya tentang masalah yang terjadi: [“Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepadaNya: “Mereka kehabisan anggur.” (Yoh 2:3)], tetapi Maria menasihati orang-orang untuk patuh kepada Puteranya, dan bukan patuh kepada dirinya [ “Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5)]. Maka, Yesus berbicara kepada ibunda-Nya sebagai atasan; tetapi Yesus sangat menghormati nasihat Bunda-Nya, Maria, persis seperti diharapkan bahwa seorang raja keturunan Daud mengabulkan keinginan bunda ratu [ Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. (Yoh 2:7)].

Kunci Daud yang sama juga dapat menyingkapkan misteri “perempuan” yang disebut dalam Kitab Wahyu. Perempuan itu dimahkotai dua belas bintang yang mewakili kedua belas suku Israel, sebab “perempuan” itu akan mengandung raja keturunan Daud, anak Daud. Perempuan itu diancam oleh sang naga sebab sekutu-sekutu si ular, keluarga Herodes akan bangkit melawan pemerintahan keluarga Daud dan pengganti Daud. Akhirnya, kerajaan Daud menyempurnakan hubungan antara Adam Lama dan Hawa Lama yang gagal dengan Adam Baru dan Hawa Baru, yang berhasil dan memperoleh penebusan bagi seluruh umat manusia.

Dalam Kitab Kejadian, kita mengetahui bahwa Adam diciptakan pertama dan diberikan kuasa atas bumi. Tetapi Ia tidak pernah bermaksud memerintah seorang diri, “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kej 2:18). Maka Allah menciptakan Hawa, penolong Adam Lama dan ratu. Mereka harus berbagi kekuasaan. Ketika Adam bangun dan menemukan dia, Adam berkata, “Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” (Kej 2:23), suatu ungkapan yang sangat jelas muncul dalam berbagai bagian dalam Alkitab, ketika suku-suku Israel memaklumkan Daud sebagai raja mereka. Ketika menyambut anak muda Daud, mereka berseru, “Kami ini darah dagingmu!”(2Sam 5:1). Dengan demikian, kata-kata Adam dalam Kitab Kejadian dikutip dengan makna yang lebih besar dan dalam: kata-kata itu menjadi aklamasi rajawi.

Dalam Kitab Kejadian, sesudah Adam menyambut Hawa dengan gembira, penulis Kitab Kejadian memberikan pernyataan, ” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kej 2:24). Para penafsir awal Alkitab dibuat bingung oleh ayat ini karena berbagai alasan. Pertama, bahwa dalam kebudayaan purba perempuanlah yang harus meninggalkan keluarga setelah perkawinan, tetapi dalam Kitab Kejadian disebut “seorang laki-laki.” Tetapi yang lebih membingungkan lagi ialah bahwa Kitab Kejadian menyebut ayah dan ibu dalam konteks ini, padahal Adam tidak memiliki ayah atau ibu. Saat mengutip teks dari Kitab Kejadian ini, Rasul Paulus mengakui bahwa misteri ini sangat mendalam, tetapi Rasul Paulus mengungkapkan misteri ini dalam ungkapan yang sama, “yang aku maksudkan adalah hubungan Kristus dengan Gereja (Ef 5:32). Dalam konteks ini Yesuslah yang akan meninggalkan Bapa dan ibu-Nya untuk bersatu dengan Mempelai-Nya, yaitu Gereja.

Maksud dan rencana Allah tidak akan dipenuhi oleh kerajaan pada awal penciptaan, juga tidak oleh Kerajaan Daud, tetapi oleh Kerajaan Allah yang akan muncul kemudian. Adam Baru yaitu Yesus akan memerintah sebagaimana telah digambarkan di taman Eden dan di dalam istana Raja Salomo. Adam Baru yaitu raja baru keturunan Daud, akan memerintah bersama mempelai Nya, yakni Hawa Baru, dan Hawa Baru ini haruslah seorang perempuan historis, yang diidentifikasikan dalam Kitab Wahyu sebagai Gereja. Ia haruslah seorang ibu dari yang hidup. Ia haruslah jurubicara umat manusia. Ia haruslah seorang bunda ratu. Ia tentulah MARIA.

Disarikan dari: Scott Hahn, Hail Holy Queen: The Mother of God in the Word of God, Penerbit Percetakan Dioma, Malang.

Santa Perawan Maria, Bunda Ratu
Doakanlah kami anak-anakmu.
Amin.

Share Button

Kuasa Dibalik Ucapan Syukur

Renungan Harian UCAPAN SYUKUR 1

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:18
=====================
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Mungkin mudah bagi kita untuk mengucap syukur ketika keadaan sedang baik-baik saja, tetapi alangkah sulitnya melakukan itu ketika kita tengah berada dalam kesesakan. Yang lebih disayangkan lagi, ada banyak orang pula yang lupa untuk mengucap syukur ketika sedang dalam keadaan baik karena terlena dalam segala kenyamanan atau kenikmatan hidup. Sebuah ucapan syukur sesungguhnya merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan Kekristenan bukan cuma untuk menunjukkan kita sebagai pribadi yang menghargai segala yang sudah diberikan Tuhan dalam hidup ini, tetapi juga karena ada kuasa dibalik sebuah ucapan syukur. Sedikit melanjutkan renungan kemarin mengenai pentingnya memiliki hati yang gembira dalam bekerja, hari ini mari kita fokus kepada bagaimana besarnya kuasa dibalik ucapan syukur.

Mari kita lihat kisah ketika Tuhan Yesus memberi makan ribuan orang hanya dengan bermodalkan beberapa roti dan ikan kecil dalam Matius 15:32-39 (juga tertulis dalam Markus 8:1-10).  Kisah ini terjadi setelah Yesus berkotbah kepada ribuan orang dan menyembuhkan mereka yang sakit. Yesus kemudian berkata kepada murid-muridNya bahwa mereka ini harus diberi makan. Tetapi jumlah yang ada terlalu sedikit untuk itu. Lantas apa yang terjadi? Yesus meminta murid-muridNya untuk membawa jumlah kecil makanan tersebut, dan “Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak.” (Matius 15:36). Ajaib! Semua orang kemudian bisa makan dengan kenyang, bahkan dikatakan setelah itu masih terdapat sisa tujuh bakul besar penuh. “Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh. Yang ikut makan ialah empat ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.” (ay 37-38). Apa yang tadinya tidak mungkin terjadi menjadi mungkin. Apa yang membuat hal mustahil itu kemudian mungkin? Kita bisa melihat bahwa kuncinya ada di balik pengucapan syukur, seperti yang tercatat dalam ayat 36 di atas. Dari sini kita bisa melihat bahwa jelas ada kuasa di dalam ucapan syukur.

Seorang Pendeta pernah merinci pentingnya ucapan syukur itu. Ia berkata bahwa Ucapan syukur itu merupakan bentuk pengungkapan atau cara dimana kita:
– menyerahkan segalanya termasuk masalah-masalah yang kita alami ke dalam tangan Tuhan
– berserah sepenuhnya
– mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mau dibentuk dan diproses sesuai cara dan kehendak Tuhan
– membiarkan kasih Tuhan mengalir dalam hidup kita
– membiarkan kuasa Tuhan bekerja dalam mengubahkan hidup kita
– meninggalkan segala keinginan pribadi kita dan menerima sepenuhnya apa yang terjadi, bahkan dalam keadaan paling buruk sekalipun
– menghargai segala sesuatu yang sudah diberikan Tuhan kepada kita hari ini
– percaya dengan iman bahwa seburuk apapun yang kita alami hari ini, ada suatu rencana besar yang Tuhan sediakan bagi kita di depan sana
Dan ada banyak lagi hal yang bisa kita peroleh di balik sebuah ucapan syukur.

Sesulit-sulitnya pergumulan yang tengah kita hadapi saat ini, Tuhan sudah berkata agar hendaknya kita jangan takut. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa kita tidak perlu kuatir, tetapi kita diperkenankan untuk menyampaikan keinginan dan harapan kita kepada Tuhan, dan itu dilakukan dalam doa dan permohonan yang disertai ucapan syukur. Lalu mari lihat ayat berikut ini: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18).

Apakah kita hanya perlu bersyukur dalam sebagian hal saja, hanya ketika semuanya berjalan baik? Ayat ini mengatakan tidak. Kita diminta untuk mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah sebenarnya dalam Kristus bagi kita. Ingat pula bahwa penyampaian ucapan syukur pun harus dilakukan dalam nama Yesus.

Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.&quot; (Efesus 5:20).

Seperti mukjizat yang terjadi di atas, hal yang sama bisa terjadi dalam kehidupan kita. Seberat apapun masalah yang tengah kita hadapi baik dalam pekerjaan, keluarga, keadaan keuangan dan sebagainya, hadapilah itu dengan selalu mengucap syukur dalam segala keadaan. Kuasa Tuhan akan bekerja lewat ucapan syukur kita sehingga mukjizat yang paling mustahil sekalipun akan bisa terjadi. Kita bisa mengalami pemulihan atas apapun pergumulan kita hari ini. Ucapan syukur mampu mendatangkan kuasa Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan mencurahkan RohNya agar bekerja dalam hidup kita, memberi hikmat untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan yang sesuai dengan kehendakNya. Apa yang tidak pernah kita pikirkan, itulah yang akan Tuhan berikan kepada kita. Sebab Firman Tuhan berkata: &quot;Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.&quot; (1 Korintus 2:9). Dan kuncinya ada pada ucapan syukur. Ucapan syukur membuktikan bahwa kita sungguh mengasihi Dia dan percaya bahwa segala yang Dia berikan adalah hanya yang terbaik bagi kita. Oleh karena itu, janganlah putus asa, hilang harapan atas apa yang kita alami. Semua itu tidak akan memberikan manfaat apa-apa dan hanya akan menutup turunnya berkat Tuhan atas diri kita. Sebaliknya, ucapan syukur yang paling sederhana sekalipun yang berasal dari hati yang tulus akan mendatangkan berkat berkelimpahan atas hidup kita. Pastikan hari ini hati kita penuh dengan ucapan syukur, dan percayalah Tuhan yang setia akan selalu memberikan jalan keluar sesuai dengan rencanaNya yang terbaik bagi kita.

Dalam segala hal, ucapkan syukur karena ada kuasa luar biasa di dalamnya.

Sumber: RenunganHarianOnline.com

Share Button

Renungan Minggu, 16 Juli 2017 : Sang Penabur

Bacaan 1 Yes 55:10-11, Bacaan 2 Rom 8:18-23, Injil Mat 13:1-13

Tempat Tumbuh Persaudaraan Sejati

 “SEPERTI hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah Firman yang keluar dari mulut-Ku: Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya”. Supaya Firman itu tumbuh, berakar, dan berbuah hingga berdaya guna, maka harus didengarkan dalam keheningan hati seperti tanah yang baik. “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah, ada yang seratus ganda, ada yang enam puluh ganda, ada yang tiga puluh ganda” (Mat 13:8).

Dalam perumpamaan tentang penabur ada tiga hal penting, yaitu firman, penabur, dan tanah. Firman itu tentang Kerajaan Surga. Firman adalah benih yang ditaburkan, yang tampak seperti benda kering dan mati, namun semua buah berada di dalamnya. Benih itu adalah kabar sukacita yang menghasilkan buah di dalam hati manusia dan berbuah dalam kehidupan. Penabur benih ialah Yesus Kristus. Dalam menaburkan benih, Yesus melakukan-Nya sendiri atau melalui orang yang beriman kepada-Nya.

Tanah yang ditaburi benih adalah hati manusia, yang dapat diolah menjadi baik dan menghasilkan buah yang baik pula. Hati manusia juga bisa menjadi ladang yang menghasilkan kemalasan karena tidak diolah. Yesus memperlihatkan empat jenis tanah: tiga buruk, satu baik.

Tanah di pinggir jalan. Para pendengar sabda yang diumpamakan dengan tanah di pinggir jalan adalah mereka yang mendengar firman tetapi tidak mengerti firman. Mereka mendengar firman tetapi tidak diubah olehnya. Mereka tidak memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik.

Kita bisa menjadi seperti tanah di pinggir jalan ketika tak mempunyai waktu untuk hening, tidak mempunyai kebiasaan doa pribadi dan tidak memiliki kelembutan hati. Kerasnya kehidupan dan arus informasi yang deras bisa menempatkan kita di pinggir jalan yang memungkinkan burung memakan benih kebaikan yang telah ditaburkan Tuhan.

Tanah berbatu-batu para pendengar sabda yang diumpamakan dengan tanah berbatu adalah mereka yang mendengar firman itu dengan cepat dan menerimanya tanpa mencerna dengan baik. Mereka bergembira namun tidak disentuh olehnya. Sabda bertahan sebentar tetapi tidak bisa bertahan terhadap pencobaan dan penganiayaan. Bisa juga kita menjadi seperti tanah yang berbatu ketika penderitaan yang kita alami bukan menguatkan iman, tetapi mematikan karena tergerus arus zaman. Pencobaan hidup yang kita hadapi tidak meneguhkan tetapi mengguncangkan karena dangkalnya iman.

Sebagian di tanah yang bersemak duri. Para pendengar sabda yang diumpamakan dengan tanah yang bersemak duri adalah orang bertumbuh dalam sabda namun tidak menghasilkan buah. Mereka tidak dapat menghasilkan karena himpitan perkara-perkara dunia dan gagal melihatnya sebagai jalan menuju Allah. Semak-semak dapat menyuburkan benih namun sekaligus dapat menghimpitnya dengan kekhawatiran. Kekhawatiran akan banyak hal melumpuhkan jiwa sebab membuat kita “gagal fokus” untuk perkara ilahi. Apalagi dengan tipu daya kekayaan yang membutakan mata hati sehingga menimbulkan kejahatan korupsi, kerusakan alam, kekerasaan, intoleransi, dan yang lain.

Tanah yang baik, tanda tanah yang baik adalah berbuah. Yesus tidak mengatakan tanah yang baik ini tidak berbatu-batu, atau tidak bersemak duri melainkan bahwa tidak ada yang dapat menghalangi tanah itu berbuah sekalipun ada batu atau semak duri. Sabda yang bergema dalam hati yang baik akan menemukan jalan. Jalan sabda menghasilkan buah tidak pernah bebas dari batu, semak duri, pencobaan, penganiayaan, dan bahaya dimakan burung. Sabda yang bergema dalam hati memiliki daya ubah dan berbuah dalam kehidupan bersama.

Benih yang jatuh di tanah yang baik memanggil kita semua untuk membangun hidup bersama, merangkul semua yang berkehendak baik membangun persaudaraan sejati. Mereka yang belum memiliki kehendak baik dirangkul untuk semakin bersaudara. Hidup bersama tak mungkin tanpa perbedaan suku, agama, ras, dan keyakinan. Hidup bersaudara di tengah masyarakat hanya mungkin dengan mencintai perbedaan. Semoga benih yang jatuh di tanah yang baik menghasilkan buah persaudaraan sejati.

Sumber:HIDUPKATOLIK.com

Share Button

Senin, 10 Oktober 2016 Hari Biasa Pekan XXVIII

       

14606377_1802979689920481_1434927295004799095_nSELALU ada orang yang berkata kepada saya: ‘Apalah bahayanya menikmati diri sendiri sebentar saja? Toh saya tidak berbuat jahat kepada orang lain; saya tidak mau menjadi religius atau menjadi kaum religius! Kalau saya tidak pergi ke pesta-pesta, pasti saya akan hidup seperti mayat!’ Sahabatku yang baik, engkau sangat salah. Entah kamu menjadi religius atau kamu akan masuk neraka. Apakah orang yang religius itu? Tidak lain dari orang yang memenuhi tanggung jawabnya sebagai orang Kristiani.”—St. Yohanes Maria Vianney

Antifon Pembuka (Gal 5:1)

Kristus telah memerdekakan kita supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan lagi di bawah perhambaan.

Doa Pagi

Allah Bapa kami, sumber pengharapan, berilah kiranya kami tanda kehidupan dalam diri Yesus Putra Manusia. Semoga hidup dan wafat-nya membangkitkan hidup baru penuh kekuatan dan harapan. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia (4:22-24.26-27.31-5:1)
    

“Kita ini bukanlah anak dari wanita hamba, melainkan dari wanita merdeka.”
Saudara-saudara, ada tertulis bahwa Abraham mempunyai dua orang anak, seorang dari wanita yang menjadi hambanya dan seorang dari wanita yang merdeka. Tetapi anak dari wanita yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging, dan anak dari wanita yang merdeka itu oleh karena janji. Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua wanita itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari Gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, yaitu Hagar. Tetapi yang lain adalah Yerusalem surgawi, yaitu wanita yang merdeka, ibu kita. Karena ada tertulis, “Bersukacitalah, hai wanita mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai wanita yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab wanita yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai anak lebih banyak daripada yang bersuami.” Karena itu, Saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak dari wanita hamba melainkan anak-anak dari wanita yang merdeka. Sebab Kristus telah memerdekakan kita, supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan tunduk lagi di bawah perhambaan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.Mazmur Tanggapan
Ref. Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
Ayat. (Mzm 113:1-2.3-4.5a.6-7)
1. Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
2. Dari terbitnya matahari sampai pada terbenamnya terpujilah nama Tuhan. Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.
3. Siapakah seperti Tuhan, Allah kita, yang diam di tempat tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi? Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mzm 95:8ab) 

Hari ini dengarkanlah suara Tuhan, dan janganlah bertegar hati.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:29-32)

    
“Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus.”
Sekali peristiwa Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengerumuni Dia, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab sebagaimana Yunus menjadi tanda bagi orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini. Pada waktu penghakiman ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sungguh, yang ada di sini lebih besar daripada Salomo! Pada waktu penghakiman orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sungguh, yang ada di sini lebih besar daripada Yunus!”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan! Renungan

Betapa sukanya sebagian orang Katolik dengan mukjizat. Setiap berita tentang adanya mukjizat, entah mukjizat penyembuhan atau mukjizat Ekaristi, orang lantas berduyun-duyun ke tempat itu. Berita tersebut cepat menyebar, apalagi melalui media sosial yang hari ini begitu banyak. Dalam hitungan menit, berita tentang mukjizat tertentu langsung tersebar ke seluruh penjuru dunia, lengkap dengan gambar fotonya. Tentu tidak lupa sekian orang ber-selfie ria di depan tempat terjadinya mukjizat.

Terkadang Tuhan memang menganugerahkan peristiwa mukjizat kepada Gereja. Sejauh mukjizat itu diterima dan diakui resmi oleh Gereja, kita pantas bersyukur dan silakan berziarah ke sana. Akan tetapi kesukaan atau hobi untuk selalu mencari yang heboh, mencari yang sensasional seperti cari mukjizat seperti itu, jangan-jangan malah seperti orang Yahudi dalam Injil hari ini. Mereka disebut Yesus sebagai angkatan yang selalu menuntut tanda. Lalu apa jawaban Yesus? Mereka tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus. Mengapa? Karena orang-orang Yahudi ini aneh. Mereka minta tanda melulu kepada Yesus, tetapi mereka tidak mau membuka mata. Betapa sudah begitu banyak tanda yang telah diberikan oleh Yesus. Bukan hanya itu, bukankah Yesus sendiri adalah tanda istimewa dari Allah sendiri? Yesus dan kehadiran-Nya sudah merupakan tanda paling hebat dari Allah.  Orang hanya perlu percaya kepada-Nya.

Marilah kita kembali ke pengalaman beriman setiap Minggu atau setiap hari. Saat kita merayakan Ekaristi, bukankah kita sebenarnya sudah melihat tanda paling istimewa dan agung? Ketika kita merayakan Misa Kudus, bukankah kita sudah melihat Tuhan Yesus sendiri dalam rupa roti dan anggur suci? Bukankah saat kita menerima Tubuh Kristus saat Komuni suci, kita telah menyambut Tuhan sendiri? Mengapa kita masih mau heboh-heboh cari Tuhan di tempat-tempat yang diberitakan tersebut? (EM/Inspirasi Batin 2016)

   
Antifon Komuni (Rm 1:7)
 
Tuhan menyayangi kalian dan memanggil kalian menjadi umat-Nya. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus, menyertai kalian.
http://renunganpagi.blogspot.co.id
Share Button

Mengapa Disebut “Rabu Abu”?

tj-devosi-640x360Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaska, yang menandai bahwa kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paska. Angka “40″ selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan. Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 34:28), demikian pula Nabi Elia (lih. 1 raj 19:8). Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (lih. Mat 4:2).

1. Mengapa hari Rabu?

Nah, Gereja Katolik menerapkan puasa ini selama 6 hari dalam seminggu (hari Minggu tidak dihitung, karena hari Minggu dianggap sebagai peringatan Kebangkitan Yesus), maka masa Puasa berlangsung selama 6 minggu ditambah 4 hari, sehingga genap 40 hari. Dengan demikian, hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu. (Paskah terjadi hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, dihitung mundur, jatuh pada hari Rabu).

Jadi penentuan awal masa Prapaska pada hari Rabu disebabkan karena penghitungan 40 hari sebelum hari Minggu Paska, tanpa menghitung hari Minggu.

2. Mengapa Rabu “Abu”?

Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (lih. Yun 3:6). Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (Lih. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari Romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”

3. Tradisi Ambrosian

Namun demikian, ada tradisi Ambrosian yang diterapkan di beberapa keuskupan di Italia, yang menghitung Masa Prapaskah selama 6 minggu, termasuk hari Minggunya, di mana kemudian hari Jumat Agung dan Sabtu Sucinya tidak diadakan perayaan Ekaristi, demi merayakan dengan lebih khidmat Perayaan Paskah. Tentang hal ini sudah pernah diulas di sini, silakan klik.

Share Button