Tuesday, 26 September 2017

Category: Renungan Hidup

Kuasa Dibalik Ucapan Syukur

Renungan Harian UCAPAN SYUKUR 1

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:18
=====================
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Mungkin mudah bagi kita untuk mengucap syukur ketika keadaan sedang baik-baik saja, tetapi alangkah sulitnya melakukan itu ketika kita tengah berada dalam kesesakan. Yang lebih disayangkan lagi, ada banyak orang pula yang lupa untuk mengucap syukur ketika sedang dalam keadaan baik karena terlena dalam segala kenyamanan atau kenikmatan hidup. Sebuah ucapan syukur sesungguhnya merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan Kekristenan bukan cuma untuk menunjukkan kita sebagai pribadi yang menghargai segala yang sudah diberikan Tuhan dalam hidup ini, tetapi juga karena ada kuasa dibalik sebuah ucapan syukur. Sedikit melanjutkan renungan kemarin mengenai pentingnya memiliki hati yang gembira dalam bekerja, hari ini mari kita fokus kepada bagaimana besarnya kuasa dibalik ucapan syukur.

Mari kita lihat kisah ketika Tuhan Yesus memberi makan ribuan orang hanya dengan bermodalkan beberapa roti dan ikan kecil dalam Matius 15:32-39 (juga tertulis dalam Markus 8:1-10).  Kisah ini terjadi setelah Yesus berkotbah kepada ribuan orang dan menyembuhkan mereka yang sakit. Yesus kemudian berkata kepada murid-muridNya bahwa mereka ini harus diberi makan. Tetapi jumlah yang ada terlalu sedikit untuk itu. Lantas apa yang terjadi? Yesus meminta murid-muridNya untuk membawa jumlah kecil makanan tersebut, dan “Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak.” (Matius 15:36). Ajaib! Semua orang kemudian bisa makan dengan kenyang, bahkan dikatakan setelah itu masih terdapat sisa tujuh bakul besar penuh. “Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh. Yang ikut makan ialah empat ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.” (ay 37-38). Apa yang tadinya tidak mungkin terjadi menjadi mungkin. Apa yang membuat hal mustahil itu kemudian mungkin? Kita bisa melihat bahwa kuncinya ada di balik pengucapan syukur, seperti yang tercatat dalam ayat 36 di atas. Dari sini kita bisa melihat bahwa jelas ada kuasa di dalam ucapan syukur.

Seorang Pendeta pernah merinci pentingnya ucapan syukur itu. Ia berkata bahwa Ucapan syukur itu merupakan bentuk pengungkapan atau cara dimana kita:
– menyerahkan segalanya termasuk masalah-masalah yang kita alami ke dalam tangan Tuhan
– berserah sepenuhnya
– mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mau dibentuk dan diproses sesuai cara dan kehendak Tuhan
– membiarkan kasih Tuhan mengalir dalam hidup kita
– membiarkan kuasa Tuhan bekerja dalam mengubahkan hidup kita
– meninggalkan segala keinginan pribadi kita dan menerima sepenuhnya apa yang terjadi, bahkan dalam keadaan paling buruk sekalipun
– menghargai segala sesuatu yang sudah diberikan Tuhan kepada kita hari ini
– percaya dengan iman bahwa seburuk apapun yang kita alami hari ini, ada suatu rencana besar yang Tuhan sediakan bagi kita di depan sana
Dan ada banyak lagi hal yang bisa kita peroleh di balik sebuah ucapan syukur.

Sesulit-sulitnya pergumulan yang tengah kita hadapi saat ini, Tuhan sudah berkata agar hendaknya kita jangan takut. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa kita tidak perlu kuatir, tetapi kita diperkenankan untuk menyampaikan keinginan dan harapan kita kepada Tuhan, dan itu dilakukan dalam doa dan permohonan yang disertai ucapan syukur. Lalu mari lihat ayat berikut ini: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18).

Apakah kita hanya perlu bersyukur dalam sebagian hal saja, hanya ketika semuanya berjalan baik? Ayat ini mengatakan tidak. Kita diminta untuk mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah sebenarnya dalam Kristus bagi kita. Ingat pula bahwa penyampaian ucapan syukur pun harus dilakukan dalam nama Yesus.

Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita." (Efesus 5:20).

Seperti mukjizat yang terjadi di atas, hal yang sama bisa terjadi dalam kehidupan kita. Seberat apapun masalah yang tengah kita hadapi baik dalam pekerjaan, keluarga, keadaan keuangan dan sebagainya, hadapilah itu dengan selalu mengucap syukur dalam segala keadaan. Kuasa Tuhan akan bekerja lewat ucapan syukur kita sehingga mukjizat yang paling mustahil sekalipun akan bisa terjadi. Kita bisa mengalami pemulihan atas apapun pergumulan kita hari ini. Ucapan syukur mampu mendatangkan kuasa Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan mencurahkan RohNya agar bekerja dalam hidup kita, memberi hikmat untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan yang sesuai dengan kehendakNya. Apa yang tidak pernah kita pikirkan, itulah yang akan Tuhan berikan kepada kita. Sebab Firman Tuhan berkata: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Dan kuncinya ada pada ucapan syukur. Ucapan syukur membuktikan bahwa kita sungguh mengasihi Dia dan percaya bahwa segala yang Dia berikan adalah hanya yang terbaik bagi kita. Oleh karena itu, janganlah putus asa, hilang harapan atas apa yang kita alami. Semua itu tidak akan memberikan manfaat apa-apa dan hanya akan menutup turunnya berkat Tuhan atas diri kita. Sebaliknya, ucapan syukur yang paling sederhana sekalipun yang berasal dari hati yang tulus akan mendatangkan berkat berkelimpahan atas hidup kita. Pastikan hari ini hati kita penuh dengan ucapan syukur, dan percayalah Tuhan yang setia akan selalu memberikan jalan keluar sesuai dengan rencanaNya yang terbaik bagi kita.

Dalam segala hal, ucapkan syukur karena ada kuasa luar biasa di dalamnya.

Sumber: RenunganHarianOnline.com

Share Button

Renungan Minggu, 16 Juli 2017 : Sang Penabur

Bacaan 1 Yes 55:10-11, Bacaan 2 Rom 8:18-23, Injil Mat 13:1-13

Tempat Tumbuh Persaudaraan Sejati

 “SEPERTI hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah Firman yang keluar dari mulut-Ku: Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya”. Supaya Firman itu tumbuh, berakar, dan berbuah hingga berdaya guna, maka harus didengarkan dalam keheningan hati seperti tanah yang baik. “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah, ada yang seratus ganda, ada yang enam puluh ganda, ada yang tiga puluh ganda” (Mat 13:8).

Dalam perumpamaan tentang penabur ada tiga hal penting, yaitu firman, penabur, dan tanah. Firman itu tentang Kerajaan Surga. Firman adalah benih yang ditaburkan, yang tampak seperti benda kering dan mati, namun semua buah berada di dalamnya. Benih itu adalah kabar sukacita yang menghasilkan buah di dalam hati manusia dan berbuah dalam kehidupan. Penabur benih ialah Yesus Kristus. Dalam menaburkan benih, Yesus melakukan-Nya sendiri atau melalui orang yang beriman kepada-Nya.

Tanah yang ditaburi benih adalah hati manusia, yang dapat diolah menjadi baik dan menghasilkan buah yang baik pula. Hati manusia juga bisa menjadi ladang yang menghasilkan kemalasan karena tidak diolah. Yesus memperlihatkan empat jenis tanah: tiga buruk, satu baik.

Tanah di pinggir jalan. Para pendengar sabda yang diumpamakan dengan tanah di pinggir jalan adalah mereka yang mendengar firman tetapi tidak mengerti firman. Mereka mendengar firman tetapi tidak diubah olehnya. Mereka tidak memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik.

Kita bisa menjadi seperti tanah di pinggir jalan ketika tak mempunyai waktu untuk hening, tidak mempunyai kebiasaan doa pribadi dan tidak memiliki kelembutan hati. Kerasnya kehidupan dan arus informasi yang deras bisa menempatkan kita di pinggir jalan yang memungkinkan burung memakan benih kebaikan yang telah ditaburkan Tuhan.

Tanah berbatu-batu para pendengar sabda yang diumpamakan dengan tanah berbatu adalah mereka yang mendengar firman itu dengan cepat dan menerimanya tanpa mencerna dengan baik. Mereka bergembira namun tidak disentuh olehnya. Sabda bertahan sebentar tetapi tidak bisa bertahan terhadap pencobaan dan penganiayaan. Bisa juga kita menjadi seperti tanah yang berbatu ketika penderitaan yang kita alami bukan menguatkan iman, tetapi mematikan karena tergerus arus zaman. Pencobaan hidup yang kita hadapi tidak meneguhkan tetapi mengguncangkan karena dangkalnya iman.

Sebagian di tanah yang bersemak duri. Para pendengar sabda yang diumpamakan dengan tanah yang bersemak duri adalah orang bertumbuh dalam sabda namun tidak menghasilkan buah. Mereka tidak dapat menghasilkan karena himpitan perkara-perkara dunia dan gagal melihatnya sebagai jalan menuju Allah. Semak-semak dapat menyuburkan benih namun sekaligus dapat menghimpitnya dengan kekhawatiran. Kekhawatiran akan banyak hal melumpuhkan jiwa sebab membuat kita “gagal fokus” untuk perkara ilahi. Apalagi dengan tipu daya kekayaan yang membutakan mata hati sehingga menimbulkan kejahatan korupsi, kerusakan alam, kekerasaan, intoleransi, dan yang lain.

Tanah yang baik, tanda tanah yang baik adalah berbuah. Yesus tidak mengatakan tanah yang baik ini tidak berbatu-batu, atau tidak bersemak duri melainkan bahwa tidak ada yang dapat menghalangi tanah itu berbuah sekalipun ada batu atau semak duri. Sabda yang bergema dalam hati yang baik akan menemukan jalan. Jalan sabda menghasilkan buah tidak pernah bebas dari batu, semak duri, pencobaan, penganiayaan, dan bahaya dimakan burung. Sabda yang bergema dalam hati memiliki daya ubah dan berbuah dalam kehidupan bersama.

Benih yang jatuh di tanah yang baik memanggil kita semua untuk membangun hidup bersama, merangkul semua yang berkehendak baik membangun persaudaraan sejati. Mereka yang belum memiliki kehendak baik dirangkul untuk semakin bersaudara. Hidup bersama tak mungkin tanpa perbedaan suku, agama, ras, dan keyakinan. Hidup bersaudara di tengah masyarakat hanya mungkin dengan mencintai perbedaan. Semoga benih yang jatuh di tanah yang baik menghasilkan buah persaudaraan sejati.

Sumber:HIDUPKATOLIK.com

Share Button

Senin, 10 Oktober 2016 Hari Biasa Pekan XXVIII

       

14606377_1802979689920481_1434927295004799095_nSELALU ada orang yang berkata kepada saya: ‘Apalah bahayanya menikmati diri sendiri sebentar saja? Toh saya tidak berbuat jahat kepada orang lain; saya tidak mau menjadi religius atau menjadi kaum religius! Kalau saya tidak pergi ke pesta-pesta, pasti saya akan hidup seperti mayat!’ Sahabatku yang baik, engkau sangat salah. Entah kamu menjadi religius atau kamu akan masuk neraka. Apakah orang yang religius itu? Tidak lain dari orang yang memenuhi tanggung jawabnya sebagai orang Kristiani.”—St. Yohanes Maria Vianney

Antifon Pembuka (Gal 5:1)

Kristus telah memerdekakan kita supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan lagi di bawah perhambaan.

Doa Pagi

Allah Bapa kami, sumber pengharapan, berilah kiranya kami tanda kehidupan dalam diri Yesus Putra Manusia. Semoga hidup dan wafat-nya membangkitkan hidup baru penuh kekuatan dan harapan. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia (4:22-24.26-27.31-5:1)
    

“Kita ini bukanlah anak dari wanita hamba, melainkan dari wanita merdeka.”
Saudara-saudara, ada tertulis bahwa Abraham mempunyai dua orang anak, seorang dari wanita yang menjadi hambanya dan seorang dari wanita yang merdeka. Tetapi anak dari wanita yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging, dan anak dari wanita yang merdeka itu oleh karena janji. Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua wanita itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari Gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, yaitu Hagar. Tetapi yang lain adalah Yerusalem surgawi, yaitu wanita yang merdeka, ibu kita. Karena ada tertulis, “Bersukacitalah, hai wanita mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai wanita yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab wanita yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai anak lebih banyak daripada yang bersuami.” Karena itu, Saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak dari wanita hamba melainkan anak-anak dari wanita yang merdeka. Sebab Kristus telah memerdekakan kita, supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan tunduk lagi di bawah perhambaan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.Mazmur Tanggapan
Ref. Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
Ayat. (Mzm 113:1-2.3-4.5a.6-7)
1. Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
2. Dari terbitnya matahari sampai pada terbenamnya terpujilah nama Tuhan. Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.
3. Siapakah seperti Tuhan, Allah kita, yang diam di tempat tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi? Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mzm 95:8ab) 

Hari ini dengarkanlah suara Tuhan, dan janganlah bertegar hati.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:29-32)

    
“Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus.”
Sekali peristiwa Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengerumuni Dia, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab sebagaimana Yunus menjadi tanda bagi orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini. Pada waktu penghakiman ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sungguh, yang ada di sini lebih besar daripada Salomo! Pada waktu penghakiman orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sungguh, yang ada di sini lebih besar daripada Yunus!”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan! Renungan

Betapa sukanya sebagian orang Katolik dengan mukjizat. Setiap berita tentang adanya mukjizat, entah mukjizat penyembuhan atau mukjizat Ekaristi, orang lantas berduyun-duyun ke tempat itu. Berita tersebut cepat menyebar, apalagi melalui media sosial yang hari ini begitu banyak. Dalam hitungan menit, berita tentang mukjizat tertentu langsung tersebar ke seluruh penjuru dunia, lengkap dengan gambar fotonya. Tentu tidak lupa sekian orang ber-selfie ria di depan tempat terjadinya mukjizat.

Terkadang Tuhan memang menganugerahkan peristiwa mukjizat kepada Gereja. Sejauh mukjizat itu diterima dan diakui resmi oleh Gereja, kita pantas bersyukur dan silakan berziarah ke sana. Akan tetapi kesukaan atau hobi untuk selalu mencari yang heboh, mencari yang sensasional seperti cari mukjizat seperti itu, jangan-jangan malah seperti orang Yahudi dalam Injil hari ini. Mereka disebut Yesus sebagai angkatan yang selalu menuntut tanda. Lalu apa jawaban Yesus? Mereka tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus. Mengapa? Karena orang-orang Yahudi ini aneh. Mereka minta tanda melulu kepada Yesus, tetapi mereka tidak mau membuka mata. Betapa sudah begitu banyak tanda yang telah diberikan oleh Yesus. Bukan hanya itu, bukankah Yesus sendiri adalah tanda istimewa dari Allah sendiri? Yesus dan kehadiran-Nya sudah merupakan tanda paling hebat dari Allah.  Orang hanya perlu percaya kepada-Nya.

Marilah kita kembali ke pengalaman beriman setiap Minggu atau setiap hari. Saat kita merayakan Ekaristi, bukankah kita sebenarnya sudah melihat tanda paling istimewa dan agung? Ketika kita merayakan Misa Kudus, bukankah kita sudah melihat Tuhan Yesus sendiri dalam rupa roti dan anggur suci? Bukankah saat kita menerima Tubuh Kristus saat Komuni suci, kita telah menyambut Tuhan sendiri? Mengapa kita masih mau heboh-heboh cari Tuhan di tempat-tempat yang diberitakan tersebut? (EM/Inspirasi Batin 2016)

   
Antifon Komuni (Rm 1:7)
 
Tuhan menyayangi kalian dan memanggil kalian menjadi umat-Nya. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus, menyertai kalian.
http://renunganpagi.blogspot.co.id
Share Button

Mengapa Disebut “Rabu Abu”?

tj-devosi-640x360Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaska, yang menandai bahwa kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paska. Angka “40″ selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan. Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 34:28), demikian pula Nabi Elia (lih. 1 raj 19:8). Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (lih. Mat 4:2).

1. Mengapa hari Rabu?

Nah, Gereja Katolik menerapkan puasa ini selama 6 hari dalam seminggu (hari Minggu tidak dihitung, karena hari Minggu dianggap sebagai peringatan Kebangkitan Yesus), maka masa Puasa berlangsung selama 6 minggu ditambah 4 hari, sehingga genap 40 hari. Dengan demikian, hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu. (Paskah terjadi hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, dihitung mundur, jatuh pada hari Rabu).

Jadi penentuan awal masa Prapaska pada hari Rabu disebabkan karena penghitungan 40 hari sebelum hari Minggu Paska, tanpa menghitung hari Minggu.

2. Mengapa Rabu “Abu”?

Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (lih. Yun 3:6). Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (Lih. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari Romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”

3. Tradisi Ambrosian

Namun demikian, ada tradisi Ambrosian yang diterapkan di beberapa keuskupan di Italia, yang menghitung Masa Prapaskah selama 6 minggu, termasuk hari Minggunya, di mana kemudian hari Jumat Agung dan Sabtu Sucinya tidak diadakan perayaan Ekaristi, demi merayakan dengan lebih khidmat Perayaan Paskah. Tentang hal ini sudah pernah diulas di sini, silakan klik.

Share Button

Renungan Rabu, 08 Oktober 2014: Ajarlah Berdoa

Ilustrasi-Renungan-Kamis-13-Maret-2014-Bukan-Sekadar-KataPekan Biasa XXVII; Gal 2:1-2, 7-14; Mzm 117; Luk 11:1-4

Dalam bacaan pertama Paulus menceritakan pengalaman diakui oleh para rasul. Hal itu sungguh tidak mudah. Paulus memerlukan waktu kurang lebih 14 tahun untuk membuktikan perubahan hidup. Paulus melihat seluruh hidupnya adalah sebuah doa dan pujian kepada Allah. Hal itulah yang membuat dia berani hidup sebagai orang benar di hadapan Allah dan sesama.

Mzm 117 adalah mazmur terpendek dari 150 bab dalam Kitab Mazmur. Hanya dua ayat di mana pemazmur memuji kasih dan kesetiaan Tuhan yang berlaku selama-lamanya untuk manusia. Sementara nanti Mzm 119 adalah Mazmur terpanjang dengan 176 ayat. Kedua Mazmur unik ini membungkus Mzm 118 yang merupakan pujian dan syukur atas segala kebaikan Tuhan.

Dalam bacaan Injil, para murid melihat Yesus sedang berdoa. Pada waktu Yesus berhenti berdoa, merekapun meminta Yesus mengajarkan mereka untuk berdoa. Yesus pun mengajarkan mereka tentang doa yang kita kenal sebagai doa Bapa Kami. Artinya, doa Bapa Kami adalah doa Yesus sendiri kepada Bapa-Nya. Inilah rahasia kekuatan Tuhan Yesus untuk menjalani suka duka perutusan-Nya di dunia.

Lagi-lagi, kunci dari doa Yesus pertama- tama adalah suatu ucapan syukur dan pujian kepada Allah, “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu.” Setelah itu barulah rangkaian permohonan seperti mohon rejeki, pengampunan dosa dan pelepasan dari segala pencobaan.

RD Josep Susanto

Share Button

Bacaan Injil, Rabu 08 Oktober 2014: Luk 11:1-4

Yesus-berdoaLuk 11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.”

Luk 11:2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.

Luk 11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya

Luk 11:4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

Share Button

Mazmur, Rabu 08 Oktober 2014: Mzm 117:1-2

puji-pujianPujilah Tuhan, hai segala bangsa

Mzm 117:1 Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!

Mzm 117:2 Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!

Share Button